, Tuban – Seorang oknum pegawai Dinas PUPR PRKP Kabupaten Tuban, yang berinisial ST, diduga melakukan penekanan dan pengkondisian terhadap para kontraktor terkait pembelian material proyek, khususnya jenis U-ditch. Berdasarkan keterangan yang dihimpun, ST diduga mengarahkan kontraktor untuk membeli material di Pasuruan, yang harganya jauh lebih mahal dibandingkan produk lokal meskipun spesifikasinya sama dan sama-sama berlabel SNI.
Tim media berhasil menemui beberapa kontraktor yang sedang berkumpul dan mengeluhkan situasi tersebut. Salah satu kontraktor yang enggan disebut namanya menjelaskan, “Kami diarahkan untuk membeli material U-ditch di Pasuruan yang harganya jauh lebih mahal daripada produk lokal Tuban. Meskipun mutunya sama dan sama-sama berlabel SNI, kalau kami turuti dan paksakan untuk beli di Pasuruan, jelas kami rugi. Makanya kami bingung.”
Para kontraktor merasa tertekan dengan kondisi ini dan mempertanyakan alasan di balik pengkondisian tersebut. “Mengapa harus dikondisikan untuk membeli U-ditch di Pasuruan yang harganya jauh lebih mahal dibandingkan produk lokal? Ini adalah tanda tanya besar yang perlu mendapatkan jawaban yang sebenarnya dan sejujur-jujurnya,” tambah kontraktor tersebut.
Ketika dikonfirmasi, Kepala Dinas PUPR PRKP Kabupaten Tuban, Agung Supriyadi, menyatakan bahwa dinas pada intinya menyerahkan kepada masing-masing pemborong/rekanan untuk menentukan pembelian material di lapangan. “Sepanjang memenuhi spek teknis yang telah ditentukan dalam kontrak, bukan karena pengaruh murah dan mahalnya barang. Walaupun mahal, kalau tidak sesuai dengan spek teknis dalam kontrak, tetap tidak diperbolehkan,” ungkapnya melalui pesan WhatsApp.
Masyarakat Kabupaten Tuban juga memberikan beragam tanggapan terkait dugaan pengkondisian ini. Beberapa warga menganggap hal ini sudah menjadi rahasia umum. “Mas, saya tidak heran, itu sudah wajar dan sudah tidak menjadi rahasia lagi. Itu sudah merupakan warisan, mas, tidak usah heran,” ujar salah satu warga. “Gak usah dipikir mas, beno wae…suwe-suwe wong ngono iku nek wis mati nek prei dewe. Lah opo dipikir nemen-nemen. Ngono iku wis dadi sego jangan (Tidak usah dipikir mas, biarkan saja…lama-lama orang seperti itu kalau sudah meninggal akan berhenti dengan sendirinya. Kenapa dipikir sungguh-sungguh. Seperti itu sudah menjadi nasi sayur),” kata warga lainnya.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak-pihak terkait mengenai dugaan ini. Langkah apa yang akan diambil untuk menangani situasi ini masih menjadi pertanyaan yang perlu dijawab oleh dinas terkait dan pihak berwenang.
Perlu adanya transparansi dan tindakan tegas untuk mengatasi masalah ini demi menjaga integritas dan keadilan dalam pelaksanaan proyek-proyek pemerintah di Kabupaten Tuban.
















