, Lampung – Anggota Komisi II DPRD Provinsi Lampung dari Fraksi PDI Perjuangan, Haji Aribun Sayunis, S.Sos., M.M., bersama Andy Roby, S.H., memberikan bantuan berupa kebutuhan pokok kepada warga terdampak banjir di dua desa, yakni Desa Pulau Tengah dan Desa Bandan Hurip, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan. Masing-masing desa menerima bantuan berupa 50 dus mi instan, 25 kg gula pasir, dan 2,5 kg kopi.
Haji Aribun menjelaskan bahwa bantuan ini merupakan bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang terkena dampak banjir akibat luapan Sungai Way Sekampung. Luapan air tersebut telah merendam lahan persawahan yang ditanami padi berumur 1–3 minggu, sehingga para petani mengalami kerugian besar akibat gagal panen (puso).
“Saya adalah bagian dari masyarakat Kecamatan Palas. Karena itu, saya sangat prihatin dengan musibah banjir yang menimpa para petani di wilayah ini. Hingga sekarang, debit air Sungai Way Sekampung belum menunjukkan tanda-tanda surut, bahkan semakin meningkat. Air telah melewati badan tanggul penangkis yang melindungi areal persawahan mereka,” ungkap Haji Aribun.
Selain memberikan bantuan, Haji Aribun juga mengapresiasi semangat gotong royong masyarakat yang berjaga untuk memastikan air tidak menjebol tanggul penangkis. Menurutnya, jika tanggul tersebut jebol, banjir akan meluas ke pemukiman warga sekitar.
“Banjir ini adalah limpahan dari lima kabupaten di Provinsi Lampung yang airnya bermuara ke Sungai Way Sekampung. Oleh karena itu, saya mengimbau masyarakat Desa Pulau Tengah dan Desa Bandan Hurip agar tetap waspada terhadap potensi banjir yang lebih besar,” tambahnya.
Haji Aribun juga menyampaikan bahwa pihaknya telah mengajukan permohonan kepada Balai Besar PUPR Provinsi Lampung untuk melakukan normalisasi tanggul penangkis sebagai langkah antisipasi banjir.
“Alhamdulillah, saat ini proses normalisasi sudah berjalan. Selain itu, tanggul juga sedang ditinggikan hingga 50 cm untuk mencegah meluapnya air irigasi ke pemukiman masyarakat,” jelasnya.
Salah satu warga Desa Pulau Tengah, Parman (45), mengungkapkan bahwa banjir telah merendam persawahannya selama 11 hari. Padi miliknya yang baru berumur 3 minggu setelah tanam kini sudah terendam banjir, dan ia khawatir tidak memiliki modal untuk menanam ulang.
“Jika air surut, kami harus mulai dari awal lagi. Untuk itu, kami butuh biaya sekitar Rp2–3 juta untuk membeli bibit dan melakukan penanaman ulang,” keluh Parman.
Melalui bantuan dan upaya normalisasi ini, diharapkan masyarakat dapat terbantu untuk menghadapi dampak banjir, sekaligus memulihkan kondisi ekonomi dan pertanian mereka. (Agusnadi)
















