Gorontalo, 27 Juni 2025 — Dalam nuansa menyambut Hari Bhayangkara ke-79, Polda Gorontalo menghadirkan warna berbeda lewat penyelenggaraan Turnamen Badminton yang berlangsung di Lapangan Bulutangkis Presisi, Jumat pagi. Namun lebih dari sekadar ajang olahraga, turnamen ini menjadi medium reflektif tentang wajah Polri yang lebih humanis, sehat, dan bersahabat di mata masyarakat.
Dibuka langsung oleh Kapolda Gorontalo Irjen Pol. Drs. R. Eko Wahyu Prasetyo, S.H., kegiatan ini menjadi bagian dari strategi soft approach Polri dalam memperkuat internal soliditas, sekaligus merawat hubungan sosial dengan masyarakat melalui pendekatan non-formal.
Kabid Humas Polda Gorontalo, Kombes Pol Desmont Harjendro A. P., S.I.K., M.T., dalam sambutannya menyampaikan bahwa olahraga bukan hanya tentang fisik semata, tetapi juga tentang membangun kebersamaan dan semangat kolektif, terutama di tengah dinamika tugas-tugas kepolisian yang semakin kompleks.
“Kami ingin memperlihatkan bahwa Polri tidak hanya berdiri dalam posisi formal penegak hukum, tetapi juga hadir dalam suasana yang lebih akrab, sehat, dan dekat dengan masyarakat,” ungkapnya.
Turnamen ini mempertandingkan sejumlah kategori ganda, baik antar-personel maupun antar-bagian di lingkungan Polda Gorontalo. Atmosfer kompetisi dikemas dalam semangat kekeluargaan dan sportivitas. Bahkan Kapolda Gorontalo turut bermain dalam laga ekshibisi yang disambut meriah oleh peserta dan penonton. Aksi beliau di lapangan menjadi bukti bahwa pimpinan pun turut membaur tanpa sekat.
Selain menjadi wadah menyalurkan bakat dan minat olahraga, turnamen ini juga dirancang sebagai penyeimbang emosional di tengah rutinitas tugas kepolisian yang padat. Lebih jauh lagi, kegiatan semacam ini diharapkan mampu membentuk personel yang tangguh secara mental dan sehat secara jasmani.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian HUT Bhayangkara ke-79 yang lebih luas, yang mencakup pula kegiatan sosial, lomba kreativitas, hingga agenda syukuran yang melibatkan masyarakat.
Dalam catatan akhir, Kombes Desmont menekankan bahwa pendekatan seperti ini adalah bentuk transformasi budaya di tubuh Polri, khususnya dalam memperkuat kepercayaan publik.
“Dengan bergerak dari ruang formal ke ruang-ruang interaksi sosial seperti ini, kami ingin menunjukkan bahwa Polri hadir secara utuh: menjaga, melindungi, dan sekaligus membersamai masyarakat,” pungkasnya. (***)

















