Gorontalo Utara — Ketua Komisi III DPRD Gorontalo Utara, Dheninda Chaerunnisa, akhirnya angkat bicara menanggapi tudingan yang menyeret namanya dalam polemik rekrutmen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu.
Ia menepis tuduhan salah satu aktivis, Nanang Latif, yang menilai dirinya telah menyebut aktivis sebagai “calo” dalam proses perekrutan tersebut.
Dengan nada tegas, Dheninda menyebut tudingan itu tidak berdasar dan merupakan bentuk pelintiran yang justru menyesatkan publik.
“Berikan saya satu bukti di mana ada pernyataan saya yang mengatakan bahwa aktivis itu adalah calo. Mana pernyataannya? Itu kan pernyataan dari Nanang Latif, terus kalian pelintir-pelintir,” tegasnya kepada awak media, Kamis (9/10/2025).
Menurutnya, pernyataan yang ia sampaikan sebelumnya semata-mata merupakan imbauan agar proses rekrutmen PPPK berjalan bersih dan transparan, bukan tuduhan terhadap kelompok atau individu tertentu.
“Saya hanya menyampaikan agar jangan ada calo, karena ada masyarakat yang datang mengadu langsung ke saya. Saya tidak menyebut siapa pun, apalagi menuduh aktivis,” jelasnya.
Dheninda menilai, pihak yang memelintir pernyataannya justru berpotensi menjadi provokator opini publik, dengan memutarbalikkan konteks ucapannya untuk membangun narasi yang salah.
“Yang sebenarnya provokator itu adalah mereka. Mereka yang memprovokasi semua ini. Padahal di pernyataan saya itu tidak ada menyebutkan calonya siapa,” ujarnya.
Ia juga mempertanyakan sikap pihak yang terkesan terlalu reaktif terhadap ucapannya.
“Kenapa mereka yang bersuara keras? Patut dipertanyakan, ada apa sebenarnya? Harusnya mereka belajar membaca, memahami, dan memaknai kalimat dengan benar,” katanya dengan nada menohok.
Lebih jauh, Dheninda menegaskan bahwa dirinya berbicara dalam kapasitas sebagai anggota legislatif yang menjalankan fungsi pengawasan publik.
“Saya hanya menjalankan tugas dan tanggung jawab saya sebagai anggota dewan. Saya ingin memastikan agar proses perekrutan PPPK paruh waktu bebas dari praktik percaloan dan pungli. Apa salahnya mengingatkan hal itu?” tandasnya.
Ia pun mengimbau semua pihak agar tidak menyesatkan publik dengan narasi provokatif yang bisa memperkeruh suasana.
“Tolong jangan memelintir dan menyesatkan publik. Pernyataan saya sederhana: jaga proses agar bersih, tanpa calo, tanpa pungli,” tutupnya. (BYP)

















