Tajuk – Di tengah upaya pemerintah meningkatkan kualitas pelayanan publik, masih saja ada praktik yang menodai semangat kejujuran dan transparansi—yakni maraknya percaloan. Fenomena ini seperti penyakit lama yang belum juga sembuh, tumbuh subur karena ada dua pihak yang sama-sama saling membutuhkan: calo yang menawarkan “jalan cepat” dan masyarakat yang memilih “jalan mudah”.
Padahal, setiap kali kita menggunakan jasa calo, secara tidak sadar kita turut memperpanjang rantai ketidakadilan. Kita membiarkan sistem bersih yang sedang dibangun pemerintah menjadi kotor oleh perilaku tidak jujur. Himbauan terhadap calo sejatinya bukan sekadar seruan kosong, melainkan panggilan kesadaran untuk kembali pada nilai-nilai integritas dan tanggung jawab sosial.
Menolak calo bukan hanya soal kepatuhan hukum, tetapi juga bukti kedewasaan moral sebagai warga negara. Masyarakat yang berani berkata “tidak” pada calo adalah masyarakat yang percaya diri, yang yakin bahwa setiap layanan publik bisa diakses secara sah dan terbuka tanpa harus membayar lebih atau mengandalkan jalur belakang.
Kini, saatnya kita berhenti menyalahkan sistem dan mulai memperbaiki perilaku individu. Jika setiap orang menolak menggunakan jasa calo, maka calo tidak akan lagi punya ruang untuk hidup. Bersihnya pelayanan publik bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama—dan semuanya bermula dari keberanian satu langkah kecil: menolak calo, mulai dari diri sendiri.
Penulis: Rahmat Anak Desa

















