Kalteng – Kalimantan Tengah tak hanya bicara soal pembangunan fisik, tapi kini melangkah ke arah yang lebih mendasar: pembangunan berbasis data dan kearifan lokal. Melalui Rapat Koordinasi dan Sinkronisasi Data Desa Program Huma Betang Wilayah Timur Tahun 2025, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalteng menegaskan langkah serius menuju tata kelola pembangunan yang tepat sasaran dan berkeadilan.
Program Huma Betang, yang menjadi ikon visi-misi Gubernur Agustiar Sabran dan Wakil Gubernur Edy Pratowo, bukan sekadar jargon pembangunan. Ia lahir dari filosofi masyarakat Dayak tentang kebersamaan, gotong royong, dan keadilan hidup bersama di satu rumah besar — rumah Huma Betang.
Spirit inilah yang kini diterjemahkan ke dalam delapan program prioritas yang menyentuh langsung kebutuhan rakyat: mulai dari BLT Rp2 juta per keluarga, pendidikan dan kesehatan gratis, pasar murah, hingga bantuan bagi petani dan nelayan. Semua diarahkan untuk satu tujuan: tidak ada warga Kalteng yang tertinggal dari arus kesejahteraan.
Namun, sebagaimana diakui Wagub Edy Pratowo, program hebat tak akan berarti tanpa data yang akurat. Itulah mengapa sinkronisasi data desa menjadi fondasi utama. Data bukan hanya angka, tapi wajah nyata masyarakat yang akan menerima manfaat. Ketika data itu murni, lengkap, dan terintegrasi, maka setiap kebijakan bisa tepat sasaran—tanpa tumpang tindih dan tanpa ada yang terlewat.
“Kita ingin setiap anak di Kalteng bisa sekolah, kuliah, dan berobat tanpa terkendala ekonomi. Mereka yang hidup sederhana pun berhak menikmati kualitas layanan publik yang sama,” tegas Edy dalam sambutannya.
Rakor yang dihadiri 394 peserta dari empat kabupaten wilayah timur Kalteng (Barito Selatan, Barito Timur, Barito Utara, dan Murung Raya) menjadi bukti nyata bahwa semangat kolaborasi itu hidup. Plh. Sekda Herson B. Aden menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar rutinitas administratif, tetapi langkah nyata membangun sinergitas data antar-pemerintah daerah untuk memastikan program sosial benar-benar menyentuh yang membutuhkan.
Langkah ini sejalan dengan semangat “Satu Data Indonesia”, yang menjadi pijakan menuju Indonesia Emas 2045. Dengan data desa yang kuat, pembangunan akan lebih presisi, anggaran lebih efisien, dan masyarakat benar-benar menjadi pusat dari kebijakan publik.
Program Huma Betang pun menjadi simbol transformasi: dari tradisi ke inovasi, dari filosofi lokal menuju kesejahteraan modern.
Kalimantan Tengah kini tidak hanya membangun jalan dan jembatan, tetapi juga membangun jembatan keadilan sosial yang menyatukan seluruh warganya di bawah atap besar Huma Betang—rumah bersama menuju Kalteng Berkah, Maju, dan Sejahtera. (Nala)

















