Gorontalo Utara – Dalam suasana rapat pembahasan APBD Gorontalo Utara Tahun 2026, Wakil Ketua DPRD Gorut, Deisy Sandra Datau, menyampaikan pesan yang sarat kepedulian. Bukan sekadar bicara angka dan lembaran dokumen, Deisy menekankan pentingnya menyusun perencanaan pembangunan yang benar-benar membumi, menyerap pengalaman warga di tahun 2025, serta menjawab kebutuhan yang nyata dirasakan masyarakat.
Dengan nada lembut namun tegas, Deisy mengingatkan bahwa rencana pembangunan tak boleh berhenti pada kerangka ideal di atas kertas. Harus ada ruang untuk memahami dinamika yang dialami masyarakat: hambatan, kekurangan layanan, hingga tantangan anggaran yang mewarnai perjalanan Gorontalo Utara sepanjang 2025.
“KUA PPAS untuk tahun 2026 harus memperhatikan dan memperhitungkan kondisi di tahun 2025 ini,” ujarnya, menegaskan bahwa setiap perencanaan harus berangkat dari suara lapangan, bukan sekadar konsep.
Bagi Deisy, catatan-catatan kecil dari masyarakat adalah pelajaran besar untuk pemerintah daerah. Kendala pelayanan, program yang tidak berjalan maksimal, hingga penyesuaian anggaran yang mendadak adalah hal yang tidak boleh diulang. Semua itu, katanya, harus menjadi bahan introspeksi bersama.
“Sehingga apa yang direncanakan nanti di tahun 2026 tidak akan terjadi seperti di tahun ini,” tambahnya, mengajak Pemda untuk benar-benar merangkul pengalaman sebagai bahan perbaikan.
Deisy menutup penyampaiannya dengan pesan penuh humanisme: perencanaan yang baik bukan hanya soal ketelitian teknis, tetapi juga soal keberpihakan dan kepekaan terhadap kehidupan masyarakat.
“Harus wanti-wanti, kita harus belajar dari pengalaman dan apa yang terjadi di tahun ini harus diperbaiki di tahun 2026,” pungkasnya, menggarisbawahi bahwa setiap langkah pembangunan harus membawa harapan baru bagi warga Gorontalo Utara.
















