Tuban, 20 Januari 2025 – Di negeri yang setiap pidatonya menjunjung tinggi pendidikan, ironinya justru guru honorer masih hidup dalam bayang-bayang ketidakpastian. Di banyak daerah, guru honorer digaji jauh di bawah upah layak—bahkan ada yang hanya menerima ratusan ribu rupiah per bulan. Padahal, di saat yang sama, sopir dan pegawai MBG (makan bergizi gratis) bisa memperoleh penghasilan lebih besar dan lebih pasti.
Pertanyaannya sederhana: apa yang salah dengan prioritas kita?
Guru honorer bukan pekerja sambilan. Mereka datang pagi, mengajar penuh tanggung jawab, mendidik karakter, membentuk masa depan anak bangsa. Namun penghargaan negara terhadap mereka seolah berhenti di kata “pengabdian”. Seakan-akan idealisme bisa membayar kontrakan, listrik, dan beras.
Sementara itu, program-program baru bermunculan dengan anggaran besar. Sopir dan pegawai teknis direkrut dengan standar upah yang relatif lebih manusiawi. Bukan berarti profesi tersebut tidak layak dihargai—semua pekerjaan mulia. Tapi ketika tulang punggung pendidikan justru digaji paling kecil, ada ketimpangan yang tak bisa dibenarkan.
Lebih menyedihkan lagi, banyak guru honorer harus bekerja sampingan: menjadi ojek, berdagang kecil-kecilan, bahkan buruh harian. Siang mengajar, malam mencari tambahan demi bertahan hidup. Di mana letak martabat profesi guru jika negara sendiri belum memuliakannya?
Pendidikan sering disebut sebagai investasi jangka panjang. Namun investasi itu tak akan pernah tumbuh jika para pendidiknya dipaksa hidup serba kekurangan. Bagaimana mungkin kita berharap kualitas pendidikan meningkat, jika gurunya terus-menerus berjuang sekadar untuk makan?
Opini ini bukan untuk mengadu profesi, melainkan mengajak berpikir ulang: sudahkah kebijakan kita berpihak pada yang paling esensial? Jalan boleh mulus, program boleh megah, tetapi jika guru honorer masih terpinggirkan, maka ada hutang moral yang belum dilunasi negara.
Sudah saatnya guru honorer tidak lagi dipandang sebagai “pelengkap”, melainkan sebagai pilar utama bangsa. Karena masa depan Indonesia tidak dibentuk di balik kemudi, dapur program, atau meja birokrasi—tetapi di ruang kelas, oleh guru yang hari ini masih digaji terlalu kecil untuk sebuah pengabdian yang begitu besar.

















