Pohuwato – Kehadiran Polri di tengah masyarakat kembali menghadirkan nuansa positif dalam perayaan budaya lokal. Di kawasan wisata Torosiaje, Kecamatan Popayato, semangat kebersamaan dan kegembiraan masyarakat tampak menyatu dalam Festival Tradisional menyambut Hari Raya Ketupat, Kamis (26/3/2026).
Dalam momentum ini, Polres Pohuwato tidak hanya menjalankan fungsi pengamanan, tetapi juga menghadirkan wajah pelayanan yang humanis dan penuh kepedulian. Dipimpin langsung oleh Kapolres Pohuwato AKBP Busroni, S.I.K., M.H., bersama jajaran Kapolsek dan personel, kehadiran aparat menjadi bagian penting dalam memastikan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib, dan lancar.
Festival yang digelar di Desa Torosiaje ini menjadi ruang ekspresi budaya masyarakat pesisir. Berbagai lomba tradisional seperti tarik tambang di atas perahu, lomba dayung, renang, ketahanan menyelam, hingga motor katinting dan pencak silat/kontau, tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga memperkuat identitas lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Antusiasme masyarakat dan pengunjung terlihat begitu tinggi, mencerminkan kuatnya ikatan sosial dan rasa memiliki terhadap tradisi.
Lebih dari sekadar pengamanan, Polri juga menunjukkan kepedulian sosial melalui aksi berbagi. Kapolres Pohuwato bersama Ketua Bhayangkari Cabang Pohuwato turun langsung menyapa anak-anak dan membagikan snack serta susu. Sentuhan kecil ini menghadirkan kebahagiaan sederhana, sekaligus mempererat hubungan emosional antara aparat dan masyarakat.
Dalam keterangannya, Kapolres menegaskan bahwa kehadiran Polri adalah bentuk nyata pelayanan kepada masyarakat.
“Kami ingin memastikan setiap aktivitas masyarakat berjalan aman dan lancar. Kehadiran kami juga sebagai wujud komitmen untuk selalu dekat dan hadir memberikan rasa nyaman,” ungkapnya.
Selama kegiatan berlangsung, situasi tetap kondusif, menunjukkan sinergi yang baik antara aparat dan masyarakat. Festival Torosiaje pun tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga simbol harmoni—di mana keamanan, kebersamaan, dan kearifan lokal berjalan seiring.
Momentum ini menegaskan bahwa ketika negara hadir dengan pendekatan yang humanis, maka yang tercipta bukan hanya ketertiban, melainkan juga rasa damai, kebahagiaan, dan kepercayaan masyarakat yang semakin kuat.
















