Gorontalo – Momentum Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah yang dirangkaikan dengan tradisi Lebaran Ketupat pada Sabtu, 28 Maret 2026, kembali menghadirkan makna mendalam bagi umat Muslim. Bukan sekadar perayaan, tetapi juga ruang suci untuk menyucikan hati, mempererat silaturahmi, serta meneguhkan kembali nilai-nilai ukhuwah Islamiyah yang menjadi inti ajaran agama.
Di tengah suasana penuh berkah tersebut, Alumni B G 4 STM Negeri Gorontalo angkatan 1996 menjadikan momen ini sebagai wasilah untuk merawat persaudaraan yang telah terjalin selama tiga dekade. Bertempat di kediaman Mus’id Kau, Kampung Jawa, Limboto Barat, kegiatan Lebaran Ketupat yang mereka gelar bukan sekadar temu kangen, melainkan majelis kebersamaan yang sarat nilai ibadah.
Lebih dari 30 tahun perjalanan waktu telah memisahkan mereka dalam ruang dan kesibukan masing-masing. Namun, dalam balutan Idulfitri, hati-hati yang lama berjauhan kembali dipertemukan oleh kerinduan yang tulus. Sebab dalam Islam, silaturahmi bukan hanya memperpanjang usia dan melapangkan rezeki, tetapi juga menjadi jalan turunnya rahmat Allah SWT.
Sebagaimana ungkapan yang hidup di antara mereka:
“Mungkin kita bukan saudara kandung, tetapi kita adalah saudara dalam hati. Ada teman, ada keluarga, dan ada teman yang menjadi keluarga.”
Kehadiran Sekretaris Sofyan Dude, Bendahara Olha Olvi Tulenan, serta seluruh sahabat B G 4 menjadi bukti bahwa persahabatan yang dilandasi keikhlasan akan selalu menemukan jalannya untuk kembali bersatu. Tidak ada sekat jabatan, tidak ada jarak status—yang ada hanyalah hati yang saling menerima dan memaafkan.
Suasana pertemuan dipenuhi tawa yang mengalir bersama kenangan masa putih abu-abu. Kisah-kisah sederhana yang dulu mungkin tampak biasa, kini terasa begitu berharga. Dalam setiap canda, tersimpan hikmah tentang arti kebersamaan, kesetiaan, dan perjalanan hidup yang penuh warna.
Lebaran Ketupat pun menjadi simbol yang lebih dalam dari sekadar tradisi. Ketupat—dengan anyaman yang saling terikat—seakan menggambarkan hubungan manusia yang terjalin dalam ikatan persaudaraan. Sementara isinya yang putih bersih menjadi perlambang hati yang kembali suci setelah saling memaafkan.
Bagi Alumni B G 4, silaturahmi bukan sekadar agenda tahunan, melainkan amanah hati yang harus dijaga. Dalam kebersamaan itu, mereka saling menguatkan, saling mendoakan, dan saling mengingatkan dalam kebaikan.
Moto yang mereka pegang teguh,
“Salah Jurusan Bukan Berarti Masa Depanmu Salah,”
menjadi refleksi spiritual bahwa hidup bukan ditentukan oleh masa lalu, tetapi oleh kesungguhan, doa, dan kebersamaan dalam menapaki jalan yang diridhai Allah SWT.
Lebih dari sekadar reuni, pertemuan ini adalah pengingat bahwa dalam persahabatan yang tulus, kita menemukan keluarga yang dipersatukan bukan oleh darah, melainkan oleh iman dan rasa.
Sebagaimana makna persahabatan yang mereka yakini:
“Sahabat sejati adalah mereka yang mengulurkan tangan saat kita terjatuh, dan tetap berjalan bersama saat kita bangkit. Dalam persahabatan, kita menemukan keluarga di hati yang berbeda.”
Semoga silaturahmi ini senantiasa terjaga dalam lindungan Allah SWT. Semoga seluruh keluarga besar Alumni B G 4 diberikan kesehatan, umur panjang, rezeki yang lapang, serta kehidupan yang penuh keberkahan.
Dan semoga setiap langkah kebersamaan ini bernilai ibadah, menjadi jalan turunnya rahmat dan ampunan-Nya.
Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin.
















