Tiga Nyawa Melayang, Ambulans Tak Hadir: Tragedi Longsor Ibarat Jadi Cermin Krisis Kemanusiaan

Anggota DPRD Gorontalo Utara, Windra Lagarusu (Foto: Dok FB)

newstizen.co.id Gorontalo Utara Tragedi longsor di tambang emas tradisional Desa Ibarat, Kecamatan Anggrek, tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga menggugah keprihatinan publik atas lemahnya respon kemanusiaan dari pemerintah daerah. Tiga penambang tewas dalam insiden yang terjadi Sabtu (19/07/2025), sementara satu lainnya selamat dari maut yang mengintai di kedalaman lubang tambang.

Namun di balik evakuasi penuh derai air mata itu, muncul fakta yang mengiris rasa kemanusiaan: tidak satu pun ambulans pemerintah hadir membantu pemindahan korban. Semua jenazah dan korban luka diangkut menggunakan mobil pick-up milik warga—bukan fasilitas medis.

Anggota DPRD Gorontalo Utara dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Windra Lagarusu, mengungkapkan kekecewaan mendalam atas situasi tersebut. Ia mempertanyakan keberadaan dan fungsi kendaraan ambulans milik Puskesmas Ilangata dan Puskesmas Anggrek, yang justru absen di saat masyarakat sangat membutuhkannya.

“Pertanyaannya, di mana ambulans saat nyawa menjadi taruhan? Jika ada, kenapa tidak digunakan? Jika tidak ada, mengapa tidak ada penjelasan? Ini bukan hanya soal kendaraan, ini soal nyawa dan kemanusiaan,” tegas Windra, Minggu (20/07/2025).

Menurut Windra, situasi ini menandakan kelemahan mendasar dalam sistem tanggap darurat kesehatan di daerah, khususnya di wilayah rawan bencana seperti Kecamatan Anggrek. Ia menekankan bahwa ambulans bukan sekadar kendaraan medis, melainkan bagian penting dari hak dasar warga dalam mendapatkan pertolongan cepat dan layak.

Dalam tragedi ini, ketiga jenazah korban sempat dibawa dari lokasi longsor ke Puskesmas Ilangata, lalu ke Puskesmas Anggrek, sebelum akhirnya diserahkan kepada keluarga. Seluruh proses tersebut berlangsung tanpa kehadiran ambulans. Bahkan untuk mengantar jenazah ke rumah duka pun, warga harus kembali bergantung pada kendaraan seadanya.

“Apakah kita sudah kehilangan rasa tanggap terhadap penderitaan orang kecil? Tiga nyawa melayang, dan kita masih sibuk mencari alasan di balik ketidakhadiran ambulans,” sindir Windra.

Hingga laporan ini diterbitkan, Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo Utara belum memberikan keterangan resmi terkait absennya ambulans dalam peristiwa tersebut. Ketidakjelasan ini justru memperpanjang luka sosial yang dirasakan keluarga korban dan masyarakat setempat.

Tragedi ini seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah. Kematian akibat bencana, ditambah kelalaian dalam pelayanan darurat, bukan hanya masalah administratif—tapi kegagalan moral. Ketika negara tidak hadir dalam detik-detik krusial hidup dan mati rakyatnya, maka kemanusiaan sedang diuji, dan saat ini, kita semua sedang gagal menjawabnya. (BYP)

Promo Spesial 11.11 TikTokShop

Promo Kursi Gaming

Rp5xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Kursi Kerja Ergonomis

Rp3xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Meja Kerja/Gaming

Rp2xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Meja Kerja/Gaming

Rp2xx.xxx

Belanja Aman di Sini

You cannot copy content of this page