Kalteng – Kunjungan kerja perdana Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin ke Palangka Raya, Kamis (27/11/2025), membuka babak baru strategi nasional dalam mempersiapkan sumber daya manusia daerah sebagai pemain utama di pasar tenaga kerja global. Melalui pertemuan dengan sivitas akademika Poltekkes Kemenkes Palangka Raya, pemerintah pusat menegaskan bahwa Kalimantan Tengah mulai dilirik sebagai salah satu lumbung SDM unggul menjelang puncak bonus demografi 2035.
Dalam agenda yang turut menghadirkan Wakil Gubernur Kalteng H. Edy Pratowo, Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin, dan Direktur Poltekkes Mars Khendra Kusfriyadi, Menteri Mukhtarudin menegaskan bahwa transformasi yang sedang dilakukan Kementerian P2MI bukan sekadar urusan tata kelola pekerja migran, tetapi strategi besar pembangunan tenaga kerja Indonesia.
Ia mengingatkan bahwa melalui Perpres Nomor 139 Tahun 2024, kementeriannya kini memegang tiga peran sekaligus—regulator, operator, dan kepala badan—sebuah mandat strategis yang disebutnya sebagai bagian dari janji Asta Cita Presiden Prabowo untuk membuka lapangan kerja secara masif, baik di dalam maupun luar negeri.
Mukhtarudin menegaskan bahwa puncak demografi 2035 adalah peluang sekaligus ancaman. Tanpa persiapan, lonjakan usia produktif dapat berubah menjadi krisis pengangguran. Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah, institusi pendidikan, dan masyarakat untuk bersinergi memperkuat kompetensi generasi muda.
Menurutnya, SDM unggul tidak cukup hanya menguasai teori. “Ilmu, skill, soft skill, mental, dan integritas harus berjalan bersama. Tidak ada generasi sukses tanpa fondasi itu,” tegasnya di hadapan ratusan mahasiswa Poltekkes.
Poltekkes Kemenkes Palangka Raya mendapat perhatian khusus karena 98 persen mahasiswanya merupakan putra-putri lokal Kalteng, menjadikannya pusat pencetak tenaga kesehatan daerah. Menteri Mukhtarudin menilai sektor kesehatan sebagai salah satu peluang besar bagi pekerja migran Indonesia, seiring meningkatnya permintaan global terhadap tenaga kesehatan kompeten.
Direktur Poltekkes Mars Khendra Kusfriyadi menyebutkan bahwa pihaknya siap mengembangkan program pelatihan dan sertifikasi yang memungkinkan lulusannya bersaing pada pasar kerja internasional. Hal tersebut diperkuat dengan penandatanganan MoU antara Kementerian P2MI, Pemprov Kalteng, Pemkot Palangka Raya, dan pihak kampus.
Kesepakatan tersebut menjadi titik awal pengembangan ekosistem pelatihan pekerja migran berbasis kompetensi di Kalimantan Tengah—dari peningkatan keterampilan, penyiapan standar perlindungan kerja, hingga penguatan jejaring tenaga kerja luar negeri.
Kunjungan ini menandai arah baru pembangunan ketenagakerjaan daerah. Pemerintah pusat tidak lagi sekadar mendorong mobilisasi tenaga kerja, tetapi memastikan kualitas dan perlindungannya. Bagi Kalimantan Tengah, inisiatif ini dinilai sebagai peluang untuk melahirkan generasi muda yang mampu menduduki posisi strategis dalam visi Indonesia Emas 2045. (Nala)

















