Tuban, 04 Febuari 2025 – Suasana di depan Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban mendadak riuh pada Rabu pagi (4/2/2026). Ratusan tukang becak yang biasanya mangkal di kawasan Wisata Religi Sunan Bonang memilih “libur” menarik penumpang demi menyuarakan isi hati mereka yang kian terjepit oleh roda ekonomi.
Massa aksi datang dengan membawa becak kebanggaan mereka, memadati area pintu masuk kantor Bupati. Mereka menuntut keadilan terkait sistem operasional transportasi wisata di Tuban yang dinilai kian meminggirkan nasib pengayuh becak tradisional.
Dilema Shuttle dan Ancaman Becak Motor (Bentor) Inti dari aksi damai ini adalah keluhan atas sepinya penumpang di titik parkir wisata. Para tukang becak menuding keberadaan bus shuttle wisata dan maraknya Becak Motor (Bentor) yang tidak teregulasi dengan baik menjadi penyebab utama “dapur mereka tidak ngebul”.
“Kami ini pengayuh manual, tenaga kami terbatas. Tapi sekarang penumpang lebih banyak diarahkan ke shuttle atau memilih bentor yang lebih cepat. Akibatnya, kami yang sudah berjam-jam menunggu di parkiran sering pulang dengan tangan hampa,” ujar salah satu orator aksi di atas bak becaknya.
Kondisi parkiran yang sepi dari akses wisatawan yang menggunakan jasa becak tradisional membuat pendapatan para pedagang kecil dan jasa transportasi ini terjun bebas. Menurut massa aksi, perlu adanya sinkronisasi dan pembagian rute yang adil antara armada shuttle milik pemerintah atau swasta dengan para tukang becak lokal.
“Kami tidak menolak kemajuan, tapi jangan sampai kami dimatikan. Kami butuh regulasi yang jelas dari Bapak Bupati agar kami tetap bisa makan dari hasil mengayuh,” tegas koordinator lapangan dalam orasinya.
Setelah melakukan orasi secara bergantian, perwakilan massa aksi akhirnya diterima oleh pihak Pemkab Tuban untuk melakukan audiensi. Mereka berharap pemerintah tidak hanya memberikan janji manis, tetapi langkah nyata seperti penataan ulang alur wisatawan dari parkiran menuju makam Sunan Bonang.
Aksi ini berlangsung tertib dengan pengawalan ketat dari petugas Satpol PP dan kepolisian. Hingga berita ini diturunkan, para tukang becak masih menunggu hasil mediasi dengan harapan ada solusi yang bisa menyeimbangkan antara modernisasi transportasi wisata dengan keberlangsungan hidup transportasi tradisional.
Akankah wajah wisata Tuban tetap ramah bagi para pengayuh becak, atau mereka akan perlahan tergilas oleh roda kebijakan? Newstizen akan terus mengawal perkembangan isu ini.
















