google.com, pub-5958770480629355, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Respons Cepat Keluhan Pasien, RSUD ZUS Gorontalo Utara Perkuat Pengadaan Obat dan Tingkatkan Kualitas Pelayanan

Foto: Ilustrasi

newstizen.co.id GORONTALO UTARA – Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Zainal Umar Sidiki (ZUS) Kabupaten Gorontalo Utara bergerak cepat merespons setiap aspirasi masyarakat sebagai bagian dari komitmen meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Salah satu langkah nyata ditunjukkan melalui tindak lanjut atas keluhan pasien terkait ketersediaan obat serta mekanisme penggantian biaya obat bagi peserta BPJS Kesehatan.

Menanggapi informasi mengenai seorang pasien yang harus menebus obat di luar rumah sakit dengan biaya sekitar Rp165 ribu, sementara nilai penggantian yang diterima sekitar Rp31 ribu, manajemen RSUD ZUS segera melakukan koordinasi lintas unit guna memastikan seluruh proses pelayanan dan mekanisme administrasi dapat dijelaskan secara menyeluruh kepada masyarakat.

Penanggung Jawab (PJ) Pengaduan Layanan RSUD ZUS, Rostina Sunge, SKM, mengatakan setiap laporan maupun keluhan yang masuk selalu menjadi perhatian serius manajemen. Menurutnya, rumah sakit langsung menggelar koordinasi bersama bagian keuangan, pelayanan penunjang, hingga Instalasi Farmasi untuk menelusuri persoalan tersebut sekaligus mencari solusi terbaik.

“Setiap masukan dari masyarakat menjadi bahan evaluasi bagi kami. Tujuannya bukan hanya menyelesaikan persoalan yang ada, tetapi juga memastikan pelayanan ke depan semakin baik dan memberikan kenyamanan bagi pasien,” ujar Rostina, Kamis (24/9/2026).

Menurutnya, hasil koordinasi menunjukkan bahwa salah satu tantangan yang masih dihadapi rumah sakit adalah pemenuhan stok obat. Kondisi tersebut berkaitan dengan keterbatasan kemampuan anggaran Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) yang harus membiayai berbagai kebutuhan operasional rumah sakit, tidak hanya pengadaan obat.

Meski demikian, manajemen memastikan kondisi tersebut tidak mengurangi komitmen rumah sakit dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Berbagai strategi terus disusun agar kebutuhan obat pasien dapat dipenuhi secara lebih optimal.

“Kalau dilihat dari kondisi rumah sakit kita, kekurangan obat terjadi karena keterbatasan anggaran. Dana BLUD tidak hanya digunakan untuk pengadaan obat, tetapi juga untuk menunjang berbagai kebutuhan pelayanan rumah sakit lainnya,” jelas Rostina.

Ia menegaskan bahwa manajemen saat ini tengah merumuskan langkah-langkah strategis agar pengadaan obat dapat semakin optimal, sehingga pasien tidak lagi harus mencari atau menebus resep di luar rumah sakit.

Mekanisme Penggantian Mengacu Ketentuan yang Berlaku

Terkait perbedaan antara biaya pembelian obat di apotek luar dengan nominal penggantian yang diterima pasien, RSUD ZUS menjelaskan bahwa proses tersebut dilakukan berdasarkan regulasi dan standar yang berlaku.

Rumah sakit menggunakan formularium rumah sakit sebagai acuan jenis obat yang dijamin, sementara nilai penggantian biaya mengacu pada harga dalam E-Katalog pemerintah yang menjadi dasar pengadaan obat di fasilitas kesehatan.

“Di rumah sakit ada formularium tersendiri. Untuk pembayaran atau penggantian biaya, acuannya adalah harga dalam E-Katalog. Jadi ketika pasien membeli obat di luar, penggantian disesuaikan dengan formularium rumah sakit atau harga tertinggi yang menjadi acuan,” terang Rostina.

Ia menambahkan, harga obat di apotek umum dapat berbeda dengan harga yang tercantum dalam E-Katalog pemerintah. Karena itu, nominal penggantian tidak selalu sama dengan jumlah biaya yang dikeluarkan pasien saat membeli obat secara mandiri.

“Penggantian tidak bisa langsung disamakan dengan total biaya yang dibayarkan pasien karena tetap mengikuti harga E-Katalog sebagai acuan anggaran rumah sakit,” tambahnya.

Evaluasi Menyeluruh untuk Pelayanan yang Lebih Baik

Sebagai bentuk tindak lanjut, manajemen RSUD ZUS tidak hanya fokus pada pembenahan sistem pengadaan obat, tetapi juga melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses pelayanan.

Salah satu langkah yang disiapkan adalah memperkuat koordinasi antarunit, meningkatkan ketersediaan obat secara bertahap, serta memperkuat edukasi kepada tenaga farmasi maupun petugas pelayanan agar informasi mengenai resep, stok obat, prosedur pelayanan, hingga mekanisme administrasi dapat disampaikan kepada pasien secara lebih jelas dan mudah dipahami.

Menurut Rostina, komunikasi yang baik antara petugas dan pasien menjadi salah satu faktor penting dalam menciptakan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan humanis.

“Tindak lanjut dari kasus ini, manajemen sedang merumuskan kembali langkah-langkah pengadaan obat agar ke depan pasien tidak perlu lagi menebus resep di luar rumah sakit,” katanya.

Komitmen Terus Berbenah

Manajemen RSUD dr. Zainal Umar Sidiki menegaskan bahwa setiap masukan dari masyarakat merupakan bagian penting dalam proses peningkatan kualitas layanan. Keluhan pasien dipandang sebagai bahan evaluasi yang mendorong rumah sakit untuk terus melakukan pembenahan, baik dari sisi pelayanan medis, administrasi, maupun pengelolaan logistik obat.

Selain terus memperkuat sistem internal, RSUD ZUS juga berharap dukungan terhadap peningkatan kapasitas anggaran rumah sakit dapat terus diperkuat sehingga pelayanan kepada masyarakat, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan obat pasien, dapat semakin maksimal.

 

Melalui koordinasi lintas bagian, evaluasi berkelanjutan, penguatan sistem pengadaan obat, serta peningkatan komunikasi pelayanan, RSUD ZUS menegaskan komitmennya untuk menghadirkan layanan kesehatan yang semakin profesional, transparan, responsif, dan berorientasi pada kepuasan masyarakat Gorontalo Utara.

Promo Spesial 11.11 TikTokShop

Promo Kursi Gaming

Rp5xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Kursi Kerja Ergonomis

Rp3xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Meja Kerja/Gaming

Rp2xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Meja Kerja/Gaming

Rp2xx.xxx

Belanja Aman di Sini

You cannot copy content of this page