Lampung Selatan — Rasa kecewa dan geram warga terhadap kondisi jalan yang rusak parah di wilayah barat Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan, akhirnya memuncak. Sebagai bentuk protes, warga dari enam desa menggelar aksi tabur ikan lele di jalan poros utama yang sudah bertahun-tahun tak tersentuh perbaikan.
Pantauan awak media NewsTizen.com, aksi ini diikuti oleh berbagai elemen masyarakat dari Desa Bumi Daya, Bumi Restu, Pulau Jaya, Tanjungjaya, Bumi Asri, dan satu desa lainnya. Mereka menebar ikan lele di kubangan-kubangan air di jalan yang rusak parah—sebuah simbol sindiran pedas terhadap kondisi jalan yang lebih mirip kolam ketimbang jalur transportasi.
Warga menilai Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan seakan menutup mata terhadap penderitaan mereka. Jalan poros sepanjang sekitar 6 kilometer yang menghubungkan enam desa tersebut merupakan akses vital bagi warga untuk beraktivitas sehari-hari, termasuk mengangkut hasil bumi seperti singkong, pisang, dan karet.
Salah satu warga Dusun Mekarjaya, Desa Bumi Daya, yang enggan disebutkan namanya, mengatakan jalan itu telah rusak selama hampir 10 tahun.
“Kami ingin pembangunan jalan yang adil dan merata. Kami menagih janji Bapak Bupati yang katanya akan prioritaskan infrastruktur dalam 100 hari kerja. Tapi sampai sekarang, buktinya belum ada,” ujarnya dengan nada kecewa.
Ia menambahkan, kondisi jalan menjadi sangat menyiksa saat musim hujan dan kemarau. Saat hujan, jalan berubah menjadi kolam besar yang dipenuhi lumpur dan air, sedangkan saat kemarau, debu tebal beterbangan dan mengganggu kesehatan serta kenyamanan warga.
“Sudah terlalu lama kami menderita. Jalan ini sangat penting untuk membawa hasil panen. Tapi tiap tahun harga jual hasil bumi kami anjlok karena akses jalan sangat buruk,” imbuhnya.
Rekan-rekannya sesama warga juga berharap aksi ini bisa membuka mata para wakil rakyat di DPRD Kabupaten Lampung Selatan. Mereka menuntut agar aspirasi masyarakat tidak hanya didengar, tapi juga ditindaklanjuti dengan kebijakan dan realisasi pembangunan.
“Kami harap Pak Bupati Radityo Egi Pratama dan Pak Wakil Bupati M. Syaiful Anwar segera turun tangan. Jangan tunggu sampai masyarakat benar-benar putus asa,” tutup warga lainnya dalam aksi tersebut.
Aksi damai ini menjadi penanda bahwa kesabaran warga sudah di ambang batas. Mereka hanya ingin hak dasar mereka sebagai warga negara—jalan yang layak untuk hidup dan bekerja.
(Agusnadi)

















