Sebanyak sepuluh sanggar seni — dari SSB Kahanjak Huang hingga Lembaga Seni dan Budaya Mahasiswa UIN — tampil bukan hanya untuk memamerkan karya, melainkan mempersembahkan pesan: bahwa kebinekaan adalah kekuatan, dan budaya adalah jantung dari persatuan.
Dalam sambutannya, Kepala UPT Taman Budaya Kalteng Wildae D. Binti menegaskan, peringatan Sumpah Pemuda bukan hanya momentum historis, tetapi ruang refleksi tentang siapa kita dan bagaimana budaya menyatukan Indonesia.
“Kita ingin menghidupkan kembali semangat Sumpah Pemuda melalui kegiatan kreatif yang berakar pada nilai-nilai budaya nasional dan daerah,” ujarnya.
Panggung terbuka malam itu menjadi simbol dari keterbukaan jiwa bangsa: menampung perbedaan, merayakan keberagaman. Setiap tarian, nyanyian, dan kostum tradisional adalah tafsir atas ikrar 1928 — bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu: Indonesia.
Tak berlebihan bila Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran, melalui Staf Ahli Yuas Elko, menyebut kegiatan tersebut sebagai bentuk nyata kepedulian pemerintah terhadap kelestarian budaya. Ia menekankan bahwa pelestarian budaya bukan sekadar nostalgia masa lalu, tetapi juga fondasi bagi masa depan.
“Melalui kegiatan Gelar Seni Budaya ini, kita berharap muncul komitmen bersama untuk menjaga dan mempromosikan warisan budaya agar semakin dikenal, tidak hanya di daerah, tetapi juga di tingkat nasional dan internasional,” ujarnya.
Semangat Sumpah Pemuda yang dahulu lahir dari keberanian untuk menyatukan perbedaan, kini menemukan wujudnya di panggung kesenian Kalimantan Tengah. Di tangan para pemuda dan seniman muda, budaya tidak sekadar diwariskan, tapi dihidupkan kembali — menjadi napas kebangsaan yang segar, kreatif, dan membumi.
Di tengah derasnya arus globalisasi, Gelar Seni Budaya ini adalah perlawanan yang elegan: sebuah pengingat bahwa kemajuan tidak harus menanggalkan akar. Bahwa menjadi modern bukan berarti kehilangan jati diri.
Di Bumi Tambun Bungai, semangat Sumpah Pemuda tidak hanya diucapkan dalam ikrar, tetapi ditarikan, dinyanyikan, dan dirayakan dalam harmoni budaya. (Nala)
