Salah satu pedagang jajanan di sekitar SDN di Kabupaten Tuban, Bu har, mengaku biasanya bisa mendapatkan penghasilan Rp100.000–Rp150.000 per hari sebelum ada program MBG. Namun, kini pendapatannya turun hingga setengahnya.
“Anak-anak sekarang sudah tidak beli jajanan lagi karena sudah dapat makan gratis dari sekolah. Kami sebenarnya mendukung programnya, tapi tolong juga pikirkan nasib kami pedagang kecil,” keluh Bu har, Jumat (8/11/2025).
Keluhan serupa juga datang dari beberapa pedagang di sekitar sekolah lain. Mereka berharap pemerintah daerah dapat menyiapkan solusi agar program bergizi gratis tidak mematikan ekonomi rakyat kecil yang selama ini menggantungkan hidup di lingkungan sekolah.
Sementara itu, salah satu masyarakat di Tuban yang enggan disebutkan namanya mengatakan, program MBG memang membawa manfaat besar bagi siswa, terutama bagi keluarga kurang mampu. Namun, ia juga memahami kondisi para pedagang.
“Mungkin ke depan pemerintah bisa melibatkan pedagang lokal dalam penyediaan menu makan gratis, jadi semua bisa merasakan manfaatnya,” ujarnya.
Program MBG sendiri merupakan bagian dari kebijakan nasional untuk menekan angka stunting dan meningkatkan gizi anak sekolah. Setiap siswa mendapat satu kali jatah makan bergizi setiap hari sekolah. Meski tujuannya baik, pelaksanaannya dinilai perlu dievaluasi agar tidak berdampak negatif terhadap ekonomi kecil di sekitar sekolah.
Masyarakat berharap, pemerintah dapat menemukan titik tengah antara kepentingan kesehatan anak dan keberlangsungan usaha kecil yang turut menopang ekonomi lokal.
