“Kami ini manusia, bukan mesin,” ucap IP dengan nada getir saat ditemui di Kwandang, Selasa (11/11/2025). “Kami hanya dibayar Rp1.000 per ton. Dari kebun di Tolango ke pabrik di Monano paling banyak 6,5 ton sekali muat, jadi cuma Rp6.500 per rit. Sehari paling dua rit kalau jalan tidak rusak.”
IP menuturkan, upah borongan itu tidak sebanding dengan kondisi kerja yang berat. Jalur menuju lokasi muatan di pedalaman Tolango penuh lumpur, licin, dan tanjakan curam. “Kami kadang nyaris terguling, tapi perusahaan tutup mata. Tidak ada perhatian terhadap keselamatan,” katanya.
Selain sistem bayaran yang dianggap tidak manusiawi, IP juga menyoroti gaji pokok yang jauh di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP) Gorontalo tahun 2025.
“Gaji pokok kami cuma Rp2 juta, ditambah uang makan Rp500 ribu. Padahal UMP sekarang Rp3,2 juta. Ini sangat tidak layak,” tegasnya.
Keluhan itu bukan milik satu orang. Sejumlah sopir lain disebut merasakan hal serupa namun memilih diam karena takut kehilangan pekerjaan. “Kami tidak berani bicara. Kalau protes, bisa diberhentikan,” ujar IP.
Kondisi tersebut memperlihatkan adanya dugaan pelanggaran terhadap ketentuan ketenagakerjaan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, yang mewajibkan perusahaan membayar upah sesuai UMP dan menjamin keselamatan kerja.
“Ini bukan soal uang semata, tapi soal rasa kemanusiaan,” tutup IP lirih.
Dikonfirmasi terpisah, pihak PT BAM melalui Risky Wahyudi menyampaikan bahwa pihaknya masih akan melakukan koordinasi internal. “Kami akan sampaikan ke manajemen,” singkatnya. Hingga berita ini ditayangkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak perusahaan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, sejak Selasa (11/11/2025) seluruh sopir PT BAM memilih untuk menghentikan sementara aktivitas pengangkutan. Puluhan truk kayu kini terparkir di sejumlah titik, menunggu keputusan dari pihak pimpinan perusahaan.
Langkah itu menjadi bentuk keputusasaan sekaligus harapan terakhir bagi para sopir yang menuntut perlakuan layak dan penghargaan atas jerih payah mereka di medan berat hutan Tolango. (Tim)
