Deretan penampilan seperti SSB Darung Tingang, Lelin Line Dance, SSB Bawi Bahalap hingga SKH Negeri 1 Palangkaraya, menyajikan perpaduan seni tradisional dan kontemporer yang menunjukkan bahwa kecintaan terhadap budaya di Kalteng tumbuh kuat sejak usia dini.
Gubernur Kalteng dalam sambutan yang dibacakan Plt. Kadis Disbudpar, dr. Seniriaty, menekankan bahwa seni budaya adalah medium penting untuk memperkuat jati diri anak sebagai pewaris keberagaman Kalteng. Ia mengatakan, Hari Anak Sedunia mengingatkan bahwa anak bukan hanya generasi penerus, tetapi juga penentu kualitas masa depan bangsa.
Seniriaty menegaskan bahwa pemenuhan hak anak adalah tanggung jawab kolektif—pemerintah, keluarga, komunitas, sekolah, hingga lembaga kebudayaan. Anak harus mendapatkan kesempatan seluas-luasnya untuk merasa aman, mendapatkan pendidikan, dan berekspresi dalam lingkungan yang mendukung tumbuh kembang mereka.
Mengusung tema global My Day, My Rights, Panggung Terbuka ini disebut menjadi bukti nyata bahwa anak-anak Kalteng memiliki ruang dan kesempatan yang sama untuk menyalurkan kreativitas mereka, baik dalam seni tradisional maupun modern.
Kepala UPT Taman Budaya Kalteng, Wildae D. Binti, menegaskan bahwa acara ini menjadi sarana untuk menunjukkan bahwa seni budaya sudah dicintai masyarakat sejak dini, terlihat dari antusiasme anak-anak yang tampil dengan keceriaan, semangat, dan kreativitas khas generasi Dayak muda.
Ia menyebut kegiatan ini penting untuk memastikan keberlanjutan warisan budaya Kalteng melalui regenerasi yang sehat. “Kegiatan ini membuktikan bahwa potensi seni anak-anak berkembang kuat. Mereka tidak hanya tampil, tetapi membawa identitas budaya dengan bangga,” ujarnya. (Nala)
