Balikpapan — Senin pagi itu, Aula Makodam VI/Mulawarman tak sekadar menjadi ruang seremoni. Ia menjelma panggung sejarah kecil tempat nilai-nilai keprajuritan, kearifan budaya Kalimantan, dan estafet kepemimpinan bertemu dalam satu tarikan napas. Pisah sambut Pangdam VI/Mlw dari Mayjen TNI Rudy Rachmat Nugraha, S.I.P., M.Sc. kepada Mayjen TNI Krido Pramono, S.H., M.Si., berlangsung khidmat, sarat simbol, dan penuh makna.
Langkah pertama Pangdam baru memasuki Makodam disambut selendang manik yang melingkar di bahu—sebuah penanda penerimaan adat. Tradisi tepung tawar menyusul, diiringi tarian khas Kalimantan yang lembut namun tegas, seolah menggambarkan karakter bumi yang akan diembannya: ramah, kuat, dan berdaulat. Pedang Pora gabungan TNI–Polri berdiri kokoh, mengantar sang pemimpin menuju pusat komando, simbol sinergi dan soliditas penjaga negeri.
Di titik paling sakral, Pataka Kodam VI/Mulawarman dicium. Tak ada kata yang terucap, namun pesan itu jelas: kesetiaan, kehormatan, dan tanggung jawab kini berpindah tangan. Pembacaan puisi yang mengiringi prosesi tersebut menjadikan momen ini bukan sekadar ritual militer, melainkan peristiwa batin yang mengikat pemimpin dengan sejarah panjang satuannya.
Apel Kehormatan kemudian digelar. Di hadapan prajurit, Mayjen TNI Rudy Rachmat Nugraha menyerahkan pasukan dan risalah satuan kepada penggantinya. Di sanalah estafet komando berlangsung—sunyi, tegas, dan bermartabat—menegaskan bahwa kepemimpinan di tubuh TNI AD bukanlah soal pribadi, melainkan amanah institusi.
Namun kisah hari itu tak berhenti pada barisan pasukan. Di Taman Yudistira Makodam VI/Mlw, sebatang pohon ditanam. Aksi sederhana ini menyimpan pesan mendalam: kepemimpinan sejati bukan hanya menjaga hari ini, tetapi menumbuhkan harapan untuk esok. Akar yang ditanam hari ini diharapkan tumbuh seiring pengabdian Kodam di tanah Kalimantan.
Ruang aula kembali hidup dalam suasana ramah tamah. Layar menampilkan kilas balik pengabdian Pangdam lama, testimoni Forkopimda Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, serta jejak kebersamaan yang telah terukir. Tawa, tepuk tangan, dan sesekali mata yang berkaca menjadi saksi bahwa pengabdian selalu meninggalkan ikatan emosional.
Dalam sambutan perdananya, Mayjen TNI Krido Pramono menegaskan komitmen melanjutkan jejak pengabdian dengan semangat kebersamaan dan profesionalisme. Sementara Mayjen TNI Rudy Rachmat Nugraha berpamitan dengan nada rendah hati, menyampaikan terima kasih kepada prajurit, PNS, Persit, dan seluruh mitra Forkopimda yang telah membersamai langkahnya.
Hampir seribu undangan dari berbagai latar—TNI, Polri, tokoh adat, tokoh agama, hingga pimpinan BUMN dan BUMD—hadir menyatukan warna. Mereka menjadi bukti bahwa Kodam VI/Mulawarman bukan sekadar institusi militer, melainkan simpul penting dalam kehidupan sosial dan budaya Kalimantan.
Ketika prosesi pelepasan pejabat lama berlangsung, haru tak bisa disembunyikan. Namun di balik itu, keyakinan tetap terjaga: Pataka boleh berpindah tangan, tetapi semangat Mulawarman—pengabdian, kehormatan, dan kesetiaan kepada negeri—akan terus menyala di dada setiap prajurit.
Sumber: Pendam VI/Mlw
Editor: BYP
















