Gubernur Agustiar Sabran dan Wakil Gubernur Edy Pratowo berdiri di hadapan para pemangku kepentingan daerah: unsur Forkopimda, tokoh adat, pemuda, akademisi, pelaku usaha, perbankan, hingga insan pers. Rilis kinerja yang digelar Rabu (31/12/2025) itu bukan hanya tentang deretan angka, melainkan tentang merawat ingatan kolektif atas satu tahun perjalanan pembangunan.
Plt. Sekda Kalteng Leonar S. Ampung membuka pertemuan dengan nada yang tenang. Ia menegaskan bahwa apa yang dipaparkan hari itu merupakan bagian dari tanggung jawab pemerintah daerah—sebuah cara menghadirkan negara secara nyata di tengah masyarakat.
Satu per satu, potret Kalimantan Tengah sepanjang 2025 disampaikan. Dari sektor pendidikan, ratusan sekolah tersentuh program penguatan layanan dan digitalisasi. Di bidang kesehatan, ribuan warga merasakan langsung layanan pemeriksaan gratis melalui jejaring puskesmas. Program-program itu barangkali tak selalu terdengar gemuruh, namun bekerja dalam senyap, menjangkau ruang-ruang kehidupan yang paling dasar.
Di ranah ekonomi kerakyatan, koperasi tumbuh sebagai simpul harapan. Paket sembako disalurkan sebagai penyangga daya beli masyarakat. Di balik angka-angka itu, terdapat denyut upaya menjaga keseimbangan—agar pembangunan tidak tercerabut dari kebutuhan warga sehari-hari.
Forum refleksi ini juga menghadirkan suara institusi strategis: TNI, Polri, Bank Indonesia, dan BPS. Mereka memotret Kalimantan Tengah dari sudut yang berbeda—keamanan yang relatif terjaga, peran aparat dalam ketahanan pangan, hingga stabilitas ekonomi yang tercermin dari inflasi rendah dan optimisme pertumbuhan ke depan.
Namun titik penting sore itu justru terletak pada satu penegasan: capaian bukanlah garis akhir.
Gubernur Agustiar Sabran menyampaikan bahwa sepanjang 2025, pemerintahannya memfokuskan langkah awal pada penyelarasan program strategis nasional dengan visi daerah. Visi “Kalteng Berkah dan Kalteng Maju” Manggatang Utus Dayak dirancang sebagai kompas jangka panjang, dengan pembangunan yang berpihak dan berdampak bagi masyarakat lokal, khususnya masyarakat Dayak.
Nada reflektif terasa ketika Gubernur menyebut capaian tahun ini sebagai fondasi. Bukan sesuatu yang selesai, melainkan sesuatu yang harus dijaga, diperkuat, dan disempurnakan.
“Tantangan ke depan akan semakin kompleks. Karena itu, komunikasi, sinergi, dan kolaborasi lintas sektor menjadi keharusan,” ujarnya.
Di penghujung tahun, Kalimantan Tengah tidak menutup buku dengan gegap gempita. Ia memilih menandai halaman, memberi catatan kecil: bahwa pembangunan adalah proses panjang, yang menuntut kesabaran, keberpihakan, dan kebersamaan.
Dan di Aula Jayang Tingang sore itu, 2025 dilepas bukan sebagai tahun yang sempurna—melainkan sebagai pijakan awal menuju perjalanan yang lebih jauh. (Nala)
