Gorontalo Utara – Di sebuah sudut terpencil di Gorontalo Utara, tersembunyi kisah pilu tentang sebuah keluarga yang hidup jauh di bawah garis kemiskinan. Enam orang tinggal dalam satu rumah beratap rumbia yang nyaris roboh, tanpa listrik, tanpa fasilitas layak, dan tanpa kepastian hidup.
Sang suami bekerja sebagai buruh tani serabutan. Penghasilannya tidak menentu, kadang cukup untuk membeli beras, kadang sama sekali tidak. Sementara sang istri terbaring sakit, tidak bisa berjalan, hanya terdiam di rumah sempit itu. Lebih menyayat hati, perempuan tersebut juga tidak bisa membaca dan menulis, membuatnya semakin terkungkung dalam keterbatasan.
Anak-anak mereka tumbuh dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Makan seadanya, sering kali hanya nasi dan garam. Tidak ada gizi cukup, tidak ada jaminan kesehatan, dan tidak ada kepastian masa depan.
Jika malam tiba, rumah itu hanya diterangi sebuah lampu kecil yang dayanya berasal dari accu bekas. Itupun harus diisi ulang dengan biaya tambahan. Dalam gelap, keluarga ini tidur di lantai tanah, dikelilingi dinginnya malam dan sunyi yang panjang.
“Kami sudah biasa hidup begini, mau mengeluh juga ke siapa,” ucap sang suami lirih.
Ironisnya, di tengah berbagai program bantuan sosial dan program perumahan seperti Rumah Mahayani yang masih berjalan, keluarga ini justru belum tersentuh. Seolah mereka tidak tercatat dalam sistem, tidak terlihat dalam data, dan tidak terdengar dalam kebijakan.
Saat ini, pemerintah daerah wajib turun tangan secara aktif untuk mencari, memastikan lokasi keluarga ini, dan melakukan pendataan langsung di lapangan. Negara tidak boleh menunggu laporan, apalagi menunggu viral. Dalam kondisi seperti ini, kehadiran pemerintah bukan pilihan, tetapi kewajiban moral dan konstitusional.
Jeritan keluarga ini adalah alarm kemanusiaan. Bahwa masih ada warga yang hidup dalam gelap, bukan hanya tanpa listrik, tetapi juga tanpa perlindungan sosial.
Mereka tidak meminta kemewahan. Hanya ingin rumah yang layak, pengobatan untuk sang ibu, pendidikan untuk anak-anak, serta sedikit cahaya agar hidup mereka tidak sepenuhnya tenggelam dalam kegelapan.
Jika negara benar-benar hadir untuk rakyat kecil, maka keluarga ini seharusnya menjadi yang pertama dicari, didatangi, dan diselamatkan—bukan yang terakhir diketahui.
Dikutip dari akun FB ARU

















