Goresan Pena Amanda Usman
Idul Fitri 1447 H – 2026 M
“Menjadi Cukup dengan Iman”
Marhaban ya Ramadhan…
Kau selalu datang dengan cara yang sama—diam, namun menggetarkan.
Seperti cahaya pertama yang perlahan menembus gelap,
kau tidak sekadar hadir,
kau mengajak kami kembali melihat ke dalam diri sendiri.
Ramadhan bukan hanya tentang waktu yang berulang,
tetapi tentang jiwa yang dipanggil pulang.
Kami datang kepadamu
tidak selalu dalam keadaan utuh.
Ada hati yang lelah,
ada harapan yang sempat retak,
dan ada doa-doa yang belum menemukan jawabannya.
Namun entah mengapa,
di bulan ini, semuanya terasa lebih ringan.
Barangkali karena kami mulai mengerti—
bahwa hidup tidak harus penuh
untuk terasa cukup.
Di tengah lapar yang sederhana,
kami belajar bahwa keinginan seringkali lebih besar dari kebutuhan.
Di tengah haus yang menahan,
kami sadar bahwa tidak semua harus dimiliki
untuk bisa disyukuri.
Ramadhan mengajarkan kami
cara paling sunyi untuk menjadi kuat.
Bahwa kekuatan tidak selalu terlihat,
ia hadir dalam kesabaran yang tak diucapkan,
dalam amarah yang ditahan,
dalam keikhlasan yang tidak meminta balasan.
Di sepertiga malam yang hening,
saat dunia seperti berhenti sejenak,
kami menemukan percakapan paling jujur
antara hamba dan Tuhannya.
Tak ada yang disembunyikan.
Tak ada yang perlu disempurnakan.
Hanya air mata,
dan keyakinan bahwa Engkau selalu mendengar.
Ya Allah…
Jika selama ini kami terlalu sibuk mengejar dunia,
di bulan ini, ajarkan kami cara berhenti sejenak.
Jika selama ini kami merasa kurang,
ajarkan kami melihat betapa banyak yang telah Engkau cukupkan.
Jika langkah kami sering goyah,
teguhkan dengan iman yang tak mudah runtuh
oleh keadaan.
Karena pada akhirnya,
kami mulai memahami sesuatu yang sederhana,
namun sering terlupakan—
bahwa cukup itu bukan tentang apa yang dimiliki,
melainkan tentang apa yang diyakini di dalam hati.
Dan kini, di penghujung Ramadhan,
ketika takbir mulai menggema,
kami tidak hanya merayakan kemenangan,
tetapi juga perjalanan.
Perjalanan untuk kembali,
perjalanan untuk memahami,
perjalanan untuk menjadi lebih utuh—
meski dengan cara yang sederhana.
Semoga setelah Ramadhan berlalu,
iman itu tidak ikut pergi.
Biarlah ia tetap tinggal,
menjadi cahaya yang tidak padam,
menjadi arah saat langkah terasa kehilangan tujuan.
Karena sesungguhnya,
di tengah dunia yang terus meminta lebih,
kami telah belajar satu hal yang paling menenangkan—
menjadi cukup,
dengan iman.













