google.com, pub-5958770480629355, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Ketika Garuda Diinjak, Apa yang Sedang Terjadi dengan Rasa Kebangsaan Kita?

newstizen.co.id Tuban, 17 Agustus 2026 – Ada pemandangan yang membuat hati terasa miris. Di tengah bangsa Indonesia sedang menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, ketika Merah Putih seharusnya berkibar di seluruh penjuru negeri, kita justru disuguhi sejumlah aksi di Aceh yang memperlihatkan simbol Bintang Bulan serta tindakan yang disebut dalam berbagai unggahan sebagai penginjakan terhadap lambang Garuda.

Jika benar tindakan tersebut dilakukan sebagaimana terlihat dalam rekaman yang beredar, tentu kita patut bertanya dengan hati yang tenang:

Ke mana perginya rasa hormat kita terhadap simbol negara?

Garuda bukan sekadar gambar burung.

Garuda adalah lambang negara Republik Indonesia.

Di dadanya terdapat Pancasila. Di kakinya tertulis Bhinneka Tunggal Ika—berbeda-beda tetapi tetap satu.

Garuda lahir dari perjalanan panjang bangsa ini. Di bawah lambang itulah para pendiri bangsa membangun Indonesia sebagai rumah bersama.

Karena itu, ketika lambang negara diperlakukan dengan tidak hormat, hati seorang anak bangsa tentu terluka.

Ini bukan soal membenci Aceh.

Bukan pula soal memusuhi masyarakat Aceh.

Aceh adalah bagian dari Indonesia. Rakyat Aceh adalah saudara sebangsa dan setanah air. Sejarah mencatat begitu banyak pengorbanan masyarakat Aceh bagi Republik Indonesia.

Justru karena Aceh adalah saudara kita, kita harus berani mengatakan ketika ada tindakan yang menurut hati nurani kita telah melewati batas.

Kritik kepada pemerintah adalah hak.

Demonstrasi adalah bagian dari demokrasi.

Menyampaikan kekecewaan adalah hak warga negara selama dilakukan sesuai hukum.

Tetapi kebebasan menyampaikan pendapat seharusnya tidak berubah menjadi penghinaan terhadap simbol negara atau tindakan yang berpotensi merobek persatuan.

Kita boleh kecewa kepada pemerintah, tetapi jangan kecewa kepada Indonesia.

Kita boleh marah kepada kebijakan yang dianggap tidak adil, tetapi jangan sampai kemarahan itu membuat kita melupakan sejarah bahwa Indonesia dibangun dengan darah dan air mata para pendahulu.

Hari ini kita sedang melihat sebuah ironi.

Di satu sisi, pemerintah mengusung tema HUT ke-81: “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.”

Namun di sisi lain, masih ada rakyat yang merasa belum mendapatkan keadilan.

Masih ada daerah yang merasa pembangunan belum sepenuhnya merata.

Masih ada korban bencana yang menunggu kepastian.

Masih ada masyarakat yang merasa suaranya belum didengar.

Dan ketika kekecewaan itu menumpuk, sebagian orang akhirnya memilih simbol-simbol yang semakin jauh dari semangat persatuan.

Inilah yang seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah dan seluruh elite bangsa.

Jangan hanya bertanya mengapa rakyat marah. Tanyakan juga mengapa rakyat merasa tidak didengar.

Namun kepada saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air di Aceh, izinkan saya menyampaikan dari lubuk hati:

Jangan biarkan luka dan kekecewaan membuat kita saling membenci.

Jangan biarkan perbedaan kepentingan politik menghapus persaudaraan.

Jangan biarkan tindakan segelintir orang membuat masyarakat Indonesia lainnya memandang Aceh dengan prasangka.

Dan jangan biarkan Garuda yang seharusnya menaungi kita semua menjadi korban dari kemarahan kepada pemerintah.

Garuda adalah milik kita semua.

Milik orang Aceh.

Milik orang Jawa.

Milik orang Sunda.

Milik orang Papua.

Milik orang Kalimantan.

Milik orang Sulawesi.

Milik seluruh rakyat dari Sabang sampai Merauke.

Begitu pula Merah Putih.

Ia bukan milik pemerintah.

Ia bukan milik partai politik.

Ia bukan milik kelompok tertentu.

Merah Putih adalah milik rakyat Indonesia.

Maka jika ada kebijakan pemerintah yang salah, mari kritik pemerintahnya.

Jika ada pejabat yang tidak berpihak kepada rakyat, kritik pejabatnya.

Jika ada ketidakadilan, lawan ketidakadilannya.

Tetapi jangan hancurkan rumah besar bernama Indonesia hanya karena kita kecewa kepada penghuninya.

Sebab pemerintah bisa berganti.

Presiden bisa berganti.

Menteri bisa berganti.

Gubernur bisa berganti.

Pejabat bisa berganti.

Tetapi Indonesia harus tetap ada.

Hari ini, saya tidak ingin menulis dengan kemarahan.

Saya ingin menulis dengan kesedihan.

Sedih melihat bangsa yang seharusnya semakin dewasa justru masih mudah terpecah.

Sedih melihat simbol persatuan dipertentangkan.

Sedih melihat kekecewaan rakyat semakin dalam.

Dan sedih ketika perjuangan para pahlawan seolah-olah terlupakan.

Tetapi kesedihan ini bukan berarti kehilangan harapan.

Justru dari kesedihan inilah kita harus kembali bertanya:

Indonesia seperti apa yang ingin kita wariskan kepada anak cucu kita?

Apakah Indonesia yang penuh kebencian?

Ataukah Indonesia yang mampu menyelesaikan persoalan dengan dialog, hukum, keadilan dan persaudaraan?

Saya memilih Indonesia yang kedua.

Mari kita jaga Aceh.

Mari kita jaga Papua.

Mari kita jaga Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan seluruh wilayah Nusantara.

Bukan dengan memaksakan keseragaman.

Tetapi dengan menghormati keberagaman dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Karena Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar tulisan di kaki Garuda.

Ia adalah janji kita bahwa perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling menghancurkan.

Dan jika hari ini kita melihat Garuda diperlakukan dengan tidak hormat, jangan hanya marah.

Mari kita introspeksi.

Mungkin ada sesuatu yang sedang retak dalam rasa kebangsaan kita.

Mungkin ada suara rakyat yang belum benar-benar didengar.

Mungkin ada keadilan yang belum dirasakan.

Dan mungkin inilah saatnya seluruh bangsa berhenti saling menunjuk, lalu mulai memperbaiki diri.

Sebab Indonesia tidak membutuhkan lebih banyak kebencian.

Indonesia membutuhkan keadilan, persaudaraan, ketegasan dalam hukum, dan pemimpin yang mau mendengar rakyatnya.

Garuda jangan diinjak.

Merah Putih jangan direndahkan.

Tetapi rakyat yang sedang terluka juga jangan diabaikan.

Karena menjaga Indonesia bukan hanya menjaga simbol negara.

Menjaga Indonesia berarti menjaga hati rakyatnya agar tetap percaya bahwa negeri ini adalah rumah bersama.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.

Semoga di usia yang semakin tua, bangsa ini semakin dewasa dalam menghadapi perbedaan.

Semoga Aceh tetap menjadi bagian dari keluarga besar Indonesia dengan segala kekhasan dan sejarahnya.

Dan semoga dari Sabang sampai Merauke, kita kembali menemukan satu kesadaran:

Kita boleh berbeda. Kita boleh kecewa. Kita boleh mengkritik. Tetapi jangan pernah kehilangan rasa bahwa kita adalah satu Indonesia.

Eko Wahyu Dwi Saputro, S.Pd

Promo Spesial 11.11 TikTokShop

Promo Kursi Gaming

Rp5xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Kursi Kerja Ergonomis

Rp3xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Meja Kerja/Gaming

Rp2xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Meja Kerja/Gaming

Rp2xx.xxx

Belanja Aman di Sini

You cannot copy content of this page