Capaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar SMA Negeri 1 Kenduruan. Fitri berhasil mengharumkan nama sekolah dan Kabupaten Tuban melalui karya inovasi pembelajaran bertajuk MPI JAWARA AI (Media Pembelajaran Interaktif Berbasis AI untuk Meningkatkan Kemampuan Unggah-Ungguh Basa Jawa).
Inovasi tersebut menghadirkan pendekatan pembelajaran Bahasa Jawa yang lebih interaktif dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Tidak sekadar memanfaatkan perkembangan teknologi, karya tersebut juga memiliki misi penting dalam menjaga kelestarian budaya Jawa, khususnya penanaman nilai-nilai unggah-ungguh atau tata krama berbahasa kepada peserta didik.
Bagi Fitri, pencapaian ini bukan semata-mata tentang gelar juara, melainkan hasil dari perjalanan panjang yang diwarnai perjuangan, proses belajar, doa, dan ikhtiar.
Ia berharap inovasi pembelajaran yang dikembangkan dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih menarik, bermakna, sekaligus membantu membentuk karakter peserta didik melalui penguatan budaya dan kesantunan berbahasa.
“Karena sejatinya, guru hebat bukanlah guru yang berhenti pada prestasi, melainkan guru yang terus bertumbuh dan memberikan arti,” demikian ungkapan Fitri dalam menyampaikan rasa syukur atas pencapaian tersebut.
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 1 Kenduruan, Nur Ida Hasanatin, M.Pd., mengungkapkan rasa bangga, haru, dan syukur atas keberhasilan yang diraih salah satu tenaga pendidiknya tersebut.
Menurutnya, prestasi Juara 2 AGP tingkat Provinsi Jawa Timur merupakan bukti bahwa pendidik di SMA Negeri 1 Kenduruan memiliki dedikasi, kreativitas, serta kompetensi yang mampu beradaptasi dengan transformasi pendidikan masa kini.
“Kami merasa sangat bangga, terharu, dan bersyukur atas pencapaian luar biasa ini. Meraih Juara 2 dalam ajang bergengsi Anugerah Guru Prima (AGP) tingkat Provinsi Jawa Timur adalah bukti nyata bahwa pendidik di sekolah kita memiliki dedikasi, kreativitas, dan kompetensi yang adaptif terhadap transformasi pendidikan masa kini,” ungkap Nur Ida.
Ia juga menyampaikan bahwa proses seleksi dan persaingan di tingkat provinsi bukanlah hal yang mudah. Namun, berbagai tahapan tersebut berhasil dilalui Fitri hingga membuahkan hasil yang membanggakan.
“Prestasi ini bukan hanya sebuah piala, melainkan bentuk pengakuan atas kerja keras, inovasi pembelajaran, serta komitmen tulus dalam memberikan yang terbaik bagi murid-murid kita,” tambahnya.
Keberhasilan Fitri Nurwijayanti menjadi gambaran bahwa inovasi pendidikan tidak harus meninggalkan akar budaya. Justru, kemajuan teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperkenalkan, mengajarkan, dan menjaga nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi muda.
Prestasi ini diharapkan menjadi motivasi bagi para pendidik lainnya, khususnya di Kabupaten Tuban, untuk terus mengembangkan kreativitas dan inovasi dalam proses pembelajaran.
Sebab, tantangan pendidikan ke depan bukan hanya bagaimana mencetak peserta didik yang unggul dalam penguasaan teknologi, tetapi juga generasi yang tetap memiliki karakter, budaya, dan kesantunan dalam kehidupan sehari-hari.
Selamat kepada Fitri Nurwijayanti, S.Pd. Semoga prestasi ini menjadi inspirasi bagi dunia pendidikan dan terus melahirkan inovasi yang bermanfaat bagi generasi penerus bangsa.
