Kapolres Pohuwato Minta Maaf atas Insiden Aksi HMI: “Tak Ada Niat Represif”

Kapolres Pohuwato Minta Maaf atas Insiden Aksi HMI: "Tak Ada Niat Represif" (Foto: Polri)

newstizen.co.id Pohuwato — Sebuah aksi damai yang bertujuan menyuarakan aspirasi, nyaris berubah menjadi tragedi. Insiden itu terjadi saat sekelompok mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pohuwato menggelar unjuk rasa di sejumlah titik strategis, termasuk Kantor DPRD, Kantor Bupati, dan Mapolres Pohuwato, Senin (21/07/2025).

Sekitar pukul 16.10 WITA, suasana memanas saat massa membakar ban bekas di depan Mapolres Pohuwato, simbol protes yang lazim dilakukan dalam demonstrasi. Namun, simbol perlawanan itu berubah menjadi ancaman nyata ketika percikan api mengenai salah satu peserta aksi, Mohamad Wahyu (20), menyebabkan luka ringan dan sesak napas akibat asap pekat dari ban yang terbakar.

Aparat kepolisian yang berjaga sebenarnya telah mengantisipasi potensi bahaya dengan mencoba memadamkan api. Sayangnya, upaya tersebut sempat dihalangi oleh sebagian massa, hingga akhirnya percikan tak terkendali terjadi. Korban pun langsung dilarikan ke RSUD Bumi Panua untuk mendapat perawatan medis sebelum akhirnya diizinkan pulang untuk rawat jalan.

Kapolres Pohuwato, AKBP H. Busroni, S.I.K., M.H., secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga korban dan seluruh jajaran HMI. “Kami sangat prihatin. Tidak ada unsur kesengajaan, tidak ada tindakan represif. Pemadaman dilakukan semata demi mencegah risiko lebih besar,” tegasnya.

Sebagai bentuk empati dan tanggung jawab moral, Kabagren Kompol Erik Kasombang bersama jajaran pejabat utama Polres Pohuwato telah membesuk Mohamad Wahyu, memastikan bahwa perawatan korban berjalan baik dan kebutuhan medis terpenuhi.

Lebih jauh, Kapolres mengimbau masyarakat agar tidak terprovokasi oleh narasi yang dapat memperkeruh suasana. “Menyampaikan aspirasi adalah hak konstitusional. Tapi marilah kita lakukan dengan damai, tanpa menambah risiko bagi siapa pun, baik peserta aksi maupun aparat,” ujarnya dengan nada menyejukkan.

Insiden ini menjadi pengingat penting bagi semua pihak: bahwa penyampaian pendapat di ruang publik harus diimbangi dengan kesadaran akan keselamatan. Membakar ban mungkin menjadi simbol perlawanan, tetapi juga menyimpan potensi bahaya bagi siapa saja di sekitarnya—baik pengunjuk rasa, aparat, maupun warga sipil yang melintas.

Dalam konteks demokrasi, kebebasan berpendapat adalah hak yang dijamin, namun keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Semangat kritis dan idealisme anak muda tidak boleh padam, tetapi juga tidak boleh membakar—baik secara harfiah maupun sosial. (***)

Promo Spesial 11.11 TikTokShop

Promo Kursi Gaming

Rp5xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Kursi Kerja Ergonomis

Rp3xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Meja Kerja/Gaming

Rp2xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Meja Kerja/Gaming

Rp2xx.xxx

Belanja Aman di Sini

You cannot copy content of this page