, Gorontalo Utara – Indra Rohandi Parinding, S. Farm, seorang aktivis kesehatan yang dikenal karena sikap kritisnya, mengungkapkan keprihatinannya terkait keterlibatan Rumah Sakit Pratama Tolinggula Gorontalo Utara (Gorut) dalam pengisian formasi jabatan Tenaga Kesehatan (Nakes) pada perekrutan Calon Aparatur Sipil Negara (CASN) dan Tenaga Penunjang Kegiatan (TPK). Senin (25/03/2023)
Indra meragukan apakah Dinas Kesehatan telah melibatkan RS Pratama Tolinggula dalam proses kaji banding di Pohuwato, mengingat adanya dugaan bahwa hal tersebut tidak melibatkan pejabat dari RS Pratama tersebut. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang peran struktur di RS Pratama Tolinggula, terutama terkait kaji banding peningkatan Sumber Daya Kesehatannya (SPK).
Menurut Indra, tidak hanya itu, sarana dan prasarana RS Pratama juga tidak dinilai dilibatkan dalam proses tersebut. Hal ini mengundang pertanyaan tentang peran pejabat di RS Pratama dan status akreditasi rumah sakit tersebut, apakah sudah mencapai standar yang memungkinkannya untuk berubah nama menjadi RSTM. Selain itu, pembagian wilayah juga menjadi perhatian, karena RS Pratama Tolinggula dianggap setara dengan Puskesmas dan masih berstatus tipe D.
Indra mengkritik secara profesional administrasi Dinas Kesehatan, menyebutnya sebagai “Asal Bapak Senang” (ABS) atau amburadul. Menurutnya, hal ini harus menjadi bahan evaluasi bagi penjabat Bupati untuk memastikan kinerja Dinas Kesehatan benar-benar optimal. Tanpa langkah konkret, potensi ini dapat mengganggu pelayanan kesehatan masyarakat, yang seharusnya menjadi prioritas utama bagi wilayah Gorontalo Utara. (Red)
















