Gorontalo – Bencana alam angin puting beliung melanda wilayah Kecamatan Tibawa dan menyebabkan kerusakan serius pada puluhan rumah warga di sejumlah desa. Peristiwa yang datang secara tiba-tiba ini memicu kepanikan masyarakat, terutama karena disertai hujan deras dan angin kencang yang menghantam permukiman penduduk. Senin (09/02/2026)
Di Desa Datahu, tercatat empat rumah warga mengalami kerusakan berat, masing-masing milik Karim Yusuf, Alimin Pusi, Moh. Apris Datau, dan Rahmat Akili. Rata-rata kerusakan terjadi pada bagian atap rumah yang beterbangan akibat terjangan angin. Bahkan, salah satu rumah warga dilaporkan kehilangan atap sekaligus meteran listrik yang ikut terseret angin puting beliung, sehingga menimbulkan risiko keselamatan tambahan.
Sementara itu, dampak terparah terjadi di Desa Isimu Raya, dengan 13 rumah warga dilaporkan terdampak, yakni milik Rostin Hasan, Irfan Madusila, Fatma Ali, Andris Asiari, Yahya Mulyadi, Salma Djamula, Fatria Hasan, Frangki Limonu, Saru Puluhulawa, Salim Tangkudung, Ridu Butang, Selvi Abdullah, dan Yanti Nur. Selain kerusakan atap, satu rumah warga dilaporkan tertimpa pohon tumbang, dan salah satu keluarga penerima manfaat (KPM) juga mengalami banjir yang memperparah kondisi tempat tinggal mereka.
Di Desa Isimu Selatan, angin kencang turut merusak rumah milik Fatrin Rahman Hasan, Syarifudin Diko, Yunus Dama, dan Abdul Wahab Podungge. Kerusakan didominasi pada bagian atap dan struktur ringan rumah yang tidak mampu menahan tekanan angin.
Sedangkan di Desa Dunggala, satu warga atas nama Hamjati Pakaya juga dilaporkan terdampak akibat bencana serupa, dengan kerusakan pada bagian rumah yang masih dalam pendataan.
Secara umum, kerusakan paling dominan terjadi pada atap rumah, yang terangkat dan hancur akibat kekuatan angin puting beliung. Kondisi ini membuat sejumlah warga terpaksa mengungsi sementara atau bertahan di rumah dengan perlindungan seadanya.
Hingga saat ini, data korban dan tingkat kerusakan masih bersifat sementara dan berpotensi berubah seiring masuknya laporan lanjutan dari lapangan. Masyarakat berharap adanya respons cepat dari pemerintah daerah dan instansi terkait, baik dalam bentuk bantuan darurat, perbaikan rumah, maupun langkah mitigasi untuk mencegah dampak yang lebih besar jika cuaca ekstrem kembali terjadi.
Di tengah puing-puing rumah dan atap yang porak-poranda, proses pendataan korban terus dilakukan agar warga terdampak tidak luput dari perhatian. Informasi kejadian ini dihimpun oleh Ahmad Pakaya, pendamping sosial dari unsur TKSK, berdasarkan laporan para Kasi Kesra di desa-desa terdampak serta Kepala Desa Isimu Raya, Sukrin Mohune. Bersama para pendamping sosial dari unsur PKH, mereka menyisir satu per satu rumah warga yang rusak, mencatat kebutuhan paling mendesak—mulai dari bahan pangan, terpal penutup atap, hingga perlengkapan darurat—di tengah cuaca yang belum sepenuhnya bersahabat. Warga berharap, pendataan ini segera berbuah bantuan nyata, agar mereka tidak terlalu lama bertahan di bawah bayang-bayang bencana yang datang tanpa peringatan. (UD)

















