Wakil Gubernur Kalimantan Tengah, Edy Pratowo, yang bertindak sebagai inspektur upacara, menyampaikan pesan Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni. Dalam pidatonya, Edy menegaskan pentingnya peran strategis Polhut sebagai garda terdepan dalam melestarikan hutan, yang merupakan warisan berharga bagi bangsa.
Mengusung tema “Bhakti Wirawana-Wana Wibawa,” Polhut diharapkan mampu memperkuat sinergi antara pusat dan daerah dalam menjaga wibawa serta keberlanjutan hutan Indonesia. Edy juga mengapresiasi perjalanan panjang Polhut selama 58 tahun, yang telah menunjukkan keberanian dan ketangguhan dalam menghadapi berbagai ancaman terhadap hutan.
Edy menyoroti tantangan besar yang dihadapi, seperti pembalakan liar, penambangan tanpa izin, perambahan hutan, dan perdagangan tumbuhan serta satwa liar yang dilindungi. Ia menekankan bahwa kejahatan kehutanan tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga berdampak negatif pada sosial, budaya, dan ekonomi.
Dalam rentang waktu 2015 hingga 2024, Polhut bersama mitra telah melaksanakan 2.171 operasi pengamanan kehutanan, dengan 1.462 kasus berhasil dilimpahkan hingga tahap penuntutan. Angka tersebut mencerminkan pencapaian yang signifikan, namun juga menjadi pengingat bahwa upaya perlindungan hutan masih harus ditingkatkan.
Edy menegaskan bahwa perlindungan kawasan hutan memerlukan pendekatan terintegrasi yang melibatkan strategi preemtif, preventif, dan represif. Ia mengajak seluruh elemen, termasuk TNI, Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat, untuk terus berkolaborasi demi menjaga kelestarian hutan.
Upacara ini dihadiri oleh berbagai pejabat daerah, mitra instansi terkait, dan perwakilan Kementerian Kehutanan, menunjukkan kuatnya sinergi dalam melindungi kekayaan alam Indonesia. Melalui peringatan ini, diharapkan Polhut semakin tangguh dalam menjalankan tugasnya sebagai pelindung hutan Indonesia. (Nala)


















