Stop Kekerasan di Sekolah: DPRD Gorontalo Utara Siap Kawal Perlindungan Anak Didik

Stop Kekerasan di Sekolah: DPRD Gorontalo Utara Siap Kawal Perlindungan Anak Didik (Foto: Tim)

newstizen.co.id Gorontalo Utara – Kasus dugaan pemukulan terhadap seorang siswa oleh oknum Kepala Sekolah SDN 14 Sumalata kembali menggugah kesadaran publik akan pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan bebas dari kekerasan. Peristiwa memilukan ini mendapat sorotan tajam dari berbagai kalangan, termasuk kalangan legislatif daerah.

Anggota Komisi III DPRD Gorontalo Utara, Windra Lagarusu, menyatakan kecaman keras terhadap tindakan kekerasan yang diduga dilakukan oleh oknum pendidik tersebut. Dalam keterangannya kepada media, Rabu (28/05/2025), Windra menegaskan bahwa kekerasan di lingkungan sekolah bukan hanya pelanggaran etik, tetapi juga ancaman serius terhadap perkembangan mental dan psikologis anak.

“Saya mengutuk keras kekerasan ini. Karena sangat berbahaya bagi mentalitas anak didik,” tegas Windra.

Ia menyampaikan bahwa kekerasan, dalam bentuk apapun, tidak memiliki tempat di dunia pendidikan. Sekolah seharusnya menjadi ruang yang aman, nyaman, dan mendidik, bukan sebaliknya menjadi tempat yang menakutkan bagi anak-anak.

Sebagai bentuk tanggung jawab pengawasan legislatif, Windra mengungkapkan bahwa Komisi III DPRD Gorontalo Utara akan segera menjadwalkan rapat klarifikasi. Rapat tersebut akan menghadirkan pihak-pihak terkait, yakni Dinas Pendidikan, kepala sekolah yang dilaporkan, serta perwakilan dari keluarga korban.

“Insya Allah akan kami agendakan setelah Bimtek. Kami ingin mendengar langsung penjelasan dari semua pihak agar permasalahan ini ditangani secara adil dan transparan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Windra menekankan pentingnya langkah-langkah korektif sebagai upaya pencegahan jangka panjang. Komisi III, menurutnya, akan mendorong terbentuknya sistem pengawasan internal yang lebih ketat serta program pembinaan bagi tenaga pendidik.

“Kami tidak ingin kekerasan menjadi hal yang dianggap biasa di lingkungan sekolah. Ini harus dihentikan,” tandasnya.

Peristiwa ini menjadi pengingat penting bahwa dunia pendidikan tak hanya soal transfer ilmu, tetapi juga soal membentuk karakter dan menjamin hak-hak anak untuk tumbuh dalam suasana yang penuh kasih dan penghormatan.

Diperlukan langkah nyata dari semua pihak—pemerintah, sekolah, orang tua, dan masyarakat—untuk memastikan bahwa sekolah benar-benar menjadi tempat yang layak bagi generasi penerus bangsa. Kasus di SDN 14 Sumalata adalah alarm bagi kita semua bahwa masih ada pekerjaan besar dalam melindungi hak anak di lingkungan pendidikan. (BYP)

Promo Spesial 11.11 TikTokShop

Promo Kursi Gaming

Rp5xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Kursi Kerja Ergonomis

Rp3xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Meja Kerja/Gaming

Rp2xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Meja Kerja/Gaming

Rp2xx.xxx

Belanja Aman di Sini

You cannot copy content of this page