Koordinator lapangan, Dicky Modanggu, dalam orasinya menyoroti berbagai persoalan yang dinilai perlu perhatian serius dari pemerintah. Salah satu tuntutan utama adalah transparansi terkait proposal abrasi pantai Desa Topi yang dikabarkan sudah diusulkan sebelumnya.
“Kami hanya meminta kejelasan dan arsip dari proposal tersebut jika memang benar sudah diajukan,” tegas Dicky. Ia juga mengungkapkan bahwa sehari sebelum aksi, ia mendapat tekanan melalui orangtuanya. Namun, Dicky menegaskan, sebagai mahasiswa, ia tidak gentar terhadap intervensi apa pun.
Aksi ini menjadi bentuk nyata kepedulian mahasiswa dan pemuda terhadap pembangunan dan tata kelola pemerintahan yang lebih baik di Kecamatan Biau. “Kami ingin memastikan setiap kebijakan yang diambil benar-benar pro-rakyat dan transparan,” tambahnya.
Demonstrasi tersebut mendapat perhatian dari masyarakat sekitar, yang turut menyaksikan aspirasi yang disampaikan oleh para mahasiswa dan pemuda. Hingga berita ini diterbitkan, pemerintah kecamatan belum memberikan tanggapan resmi terkait tuntutan tersebut. (BYP)
