Upacara sakral ini dipimpin oleh para pemangku adat yang tergabung dalam “Duluwo Limo Lo Pohalaa”, yakni dewan adat dari lima negeri adat di Gorontalo. Rangkaian prosesi diawali dengan tabuhan genderang adat yang mengiringi kedatangan Bupati dan Wabup. Selain itu, tarian Longgo—tarian perang khas Gorontalo—juga dipentaskan untuk menambah kekhidmatan acara.
Dalam prosesi Mopotilolo, biasanya terdapat penyerahan persembahan adat berupa minuman dan makanan tradisional sebagai simbol penyambutan. Namun, karena berlangsung di bulan Ramadan, prosesi kali ini tidak disertai dengan jamuan tersebut.
Setelah penyambutan, rangkaian acara dilanjutkan dengan pengucapan petuah adat yang berisi nasihat dan harapan kepada pemimpin daerah yang baru. Prosesi kemudian ditutup dengan pembacaan doa, memohon keselamatan dan kelancaran bagi Bupati dan Wabup dalam menjalankan tugas mereka.
Mopotilolo bukan sekadar tradisi seremonial, tetapi juga merupakan wujud penghormatan adat Gorontalo terhadap pemimpin yang akan mengemban amanah rakyat. Dengan berlangsungnya prosesi ini, diharapkan kepemimpinan Sofyan Puhi dan Tonny S. Junus dapat membawa Kabupaten Gorontalo menuju kemajuan yang lebih baik sesuai dengan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. (Sirson)
