“Prestasi catur Gorontalo saat ini masih jauh dari harapan. Kami, para pecinta dan atlet catur, mendambakan sosok pengurus yang memiliki kepedulian tinggi, dedikasi, serta visi yang jelas dalam membangun olahraga ini,” ujar Kasmir.
Lebih jauh, ia menyoroti adanya krisis kepemimpinan di tubuh Percasi Gorontalo yang dinilai kurang berkomitmen nyata terhadap pembinaan atlet dan pengembangan olahraga catur. Bagi Kasmir, kepemimpinan bukan sekadar menduduki jabatan, melainkan tanggung jawab untuk mewujudkan visi dalam bentuk aksi konkret.
“Pemimpin yang baik bukan hanya mengejar hasil jangka pendek, tetapi juga membangun fondasi kuat untuk keberhasilan jangka panjang. Kepemimpinan sejati harus berbasis pada pengaruh positif, bukan sekadar otoritas,” tegasnya.
Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya insan catur di Gorontalo, untuk aktif mengawal jalannya Musda Percasi 2025. Tujuannya adalah memastikan terpilihnya kepengurusan baru yang benar-benar kompeten, berdedikasi, dan mampu membawa perubahan nyata.
Kondisi catur Gorontalo saat ini dinilai semakin mengkhawatirkan, terutama menjelang Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Catur ke-50 yang akan digelar di Sulawesi Barat pada Juli–Agustus 2025. Hingga kini, belum ada langkah konkret dari Percasi Gorontalo untuk menggelar seleksi atlet yang akan mewakili daerah dalam ajang bergengsi tersebut.
“Dengan waktu yang semakin mepet, ketiadaan rencana seleksi atlet menunjukkan lemahnya perencanaan dan kurangnya perhatian terhadap prestasi catur daerah,” tambah Kasmir.
Dengan semangat pembaruan, Musda Percasi Gorontalo 2025 diharapkan dapat menjadi titik balik kebangkitan olahraga catur di provinsi ini, sekaligus mendorong prestasi lebih gemilang di masa mendatang. (SD)
