Sesaat, suasana menjadi hening. Tak ada suara selain alunan kalimat bersejarah yang pertama kali dikumandangkan 80 tahun lalu oleh Soekarno-Hatta di Jakarta. Namun kali ini, gema proklamasi itu lahir dari ujung utara Gorontalo, menembus ruang waktu dan menghadirkan makna baru: kemerdekaan yang dijaga bersama oleh rakyat dan wakilnya.
Upacara HUT ke-80 RI di Kecamatan Gentuma menjadi lebih dari sekadar seremoni tahunan. Ia menjelma menjadi ruang kebersamaan, di mana pemerintah, aparat keamanan, pelajar, dan masyarakat bersatu dalam semangat merah putih.
Bagi Robinson, membaca teks proklamasi bukan hanya kehormatan, tetapi juga tanggung jawab moral seorang wakil rakyat.
“Ini bukan sekadar membaca teks. Ini pengingat bagi kami semua bahwa kemerdekaan harus dijaga dengan kerja nyata dan kejujuran dalam pengabdian,” katanya usai upacara.
Dari wajah-wajah pelajar yang tegap berdiri hingga para tokoh masyarakat yang menundukkan kepala dengan hormat, terlihat jelas satu hal: nasionalisme masih hidup di Gentuma.
Delapan dekade setelah kemerdekaan dikumandangkan, masyarakat di kecamatan ini membuktikan bahwa semangat itu tidak pernah padam—ia terus hidup di setiap hati yang mencintai tanah air, dari pusat kota hingga pelosok desa.
