Proyek Jembatan Jenggolo Molor, Jalan Desa Makin Rusak: Warga  Mendesak Pemerintah Bertindak

Tuban, 26 November  2025—Keluhan warga Dusun Gedangan, Desa Jenggolo, kini semakin menguat. Selain jalan desa yang rusak parah dan berlubang, warga menilai kondisi itu tidak lepas dari molornya proyek Jembatan Jenggolo yang sampai akhir November 2025 belum menunjukkan perkembangan sesuai target.

Pantauan Newstizen, aktivitas kendaraan berat pembawa material proyek masih terus melintas di jalan desa yang kondisinya kian hancur. Jalan yang tadinya rusak ringan kini berubah menjadi deretan lubang menganga dan licin saat hujan. Warga menyebut kerusakan semakin parah sejak proyek jembatan tak kunjung rampung.

DATA TEKNIS PROYEK JEMBATAN JENGGOLO

Nama Proyek: Penggantian Jembatan Jenggolo

Lokasi: Ruas Jalan Jenu – Merakurak, Desa Jenggolo, Tuban

Nilai Anggaran: Rp 9,7 miliar (APBD 2025)

Kontraktor Pelaksana: CV Vina Valen Jaya

Durasi Pekerjaan: 180 hari kalender sesuai kontrak

Panjang Jembatan: 22,6 meter

Lebar Jembatan: 10 meter

Paket Perencanaan Teknis: Anggaran Rp 195 juta dari APBDP 2024

Data teknis ini dimaksudkan agar proyek mampu menjadi akses utama warga, penghubung Merakurak–Jenu, sekaligus meningkatkan konektivitas antar kecamatan.

Namun realitas di lapangan jauh dari harapan warga.

Warga: “Proyek Molor, Jalan Kami Jadi Korban

Sejumlah warga Gedangan menyampaikan kekecewaannya kepada Newstizen. Mereka menilai pihak kontraktor dan pengawas proyek belum memperhatikan dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan sekitar.

“Jembatannya molor, tapi truk material tetap lewat sini. Jalan rusak makin parah, padahal ini akses utama warga. Anak sekolah sering jatuh karena lubangnya dalam,” ujar S, warga setempat.

Menurut warga, slogan pembangunan daerah Mbangun Desa Noto Kuto menjadi ironi, mengingat kondisi di lapangan menunjukkan sebaliknya.

Proyek Disorot: Berpotensi Lewat Target dan Abaikan K3

Molornya proyek Jembatan Jenggolo tidak hanya disorot oleh warga, tetapi juga oleh anggota DPRD Tuban. Mereka menilai progres pembangunan tidak seimbang dengan waktu pengerjaan yang tersisa.

Selain itu, proyek ini juga tersorot karena dugaan pengabaian standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), seperti ditemukannya pekerja maupun ASN dari dinas terkait yang bekerja tanpa APD standar.

Padahal, dengan nilai proyek hampir Rp 10 miliar, penerapan K3 menjadi kewajiban yang seharusnya tidak dinegosiasikan.

Pelajar Jadi Korban Lubang Jalan

Dari laporan warga, pelajar menjadi kelompok yang paling terdampak. Lubang-lubang jalan yang tergenang air saat hujan membuat mereka sering terpeleset atau jatuh.

“Habis hujan itu lebih berbahaya. Lubangnya tidak kelihatan, banyak yang jatuh,” tutur seorang ibu yang anaknya sekolah di Merakurak.

Warga meminta pemerintah desa maupun dinas terkait untuk turun langsung melakukan perbaikan sementara.

Tuntutan Warga: Percepat Pekerjaan dan Perbaiki Jalan Desa

Warga menegaskan dua tuntutan utama:

1. Proyek Jembatan Jenggolo harus diselesaikan tepat waktu, tanpa alasan yang terus-menerus.

2. Jalan Dusun Gedangan harus segera diperbaiki, mengingat keselamatan warga kini dipertaruhkan setiap hari.

Mereka berharap pemerintah dapat lebih tegas terhadap kontraktor apabila pekerjaan tidak sesuai kualitas atau jadwal.

Redaksi Newstizen: Pengawasan Harus Diperketat

Redaksi Newstizen menilai persoalan ini bukan hanya soal proyek molor, tetapi menyangkut keseriusan pemerintah dalam melakukan pengawasan. Proyek bernilai miliaran rupiah seharusnya memberi manfaat nyata bagi masyarakat, bukan menimbulkan kerusakan tambahan.

Jika kontraktor tidak mampu menyelesaikan sesuai kontrak, pemerintah wajib memberikan sanksi, termasuk denda sesuai aturan.

You cannot copy content of this page

Exit mobile version