Dengan senyum ramah dan gaya komunikasi yang terbuka, Dheninda memulai pertemuan di Desa Moluo dengan mendengarkan satu per satu suara warga. Di desa ini, aspirasi banyak mengarah pada penguatan ekonomi keluarga. Warga meminta dukungan UMKM serta bantuan bibit ternak untuk meningkatkan produktivitas. Bagi Dheninda, setiap cerita yang disampaikan para ibu, petani, dan pelaku usaha kecil adalah gambaran nyata perjuangan masyarakat dalam menjaga penghidupan keluarga.
Di Desa Leboto, suasananya tak jauh berbeda—hangat, penuh harap, dan dekat. Warga menyampaikan kebutuhan yang lebih beragam, dari pembangunan jamban sehat, program rumah rehabilitasi, hingga bantuan sosial mahayani. Petani mengusulkan alat pertanian seperti jonder dan benih jagung, sementara pelaku UMKM membutuhkan gerobak untuk menopang usaha mereka. Dheninda menyimak semuanya dengan penuh perhatian, menunjukkan bahwa tidak ada suara yang dianggap kecil atau sepele.
“Semua keluhan, kebutuhan, dan harapan yang disampaikan masyarakat merupakan bahan kerja kami yang utama,” tutur Dheninda di hadapan warga.
Ia menjelaskan bahwa seluruh aspirasi ini akan dibawa ke rapat komisi maupun paripurna DPRD, dan selanjutnya dikawal melalui koordinasi dengan OPD terkait. Baginya, reses bukan hanya mendengar, tetapi memastikan aspirasi itu menemukan jalannya dalam kebijakan daerah.
Melalui kehadirannya yang langsung menyapa warga, Dheninda Chairunisa kembali menegaskan komitmennya: menjadi jembatan nyata antara suara masyarakat dan kebijakan pembangunan. Reses ini bukan hanya agenda kerja, tetapi ruang kedekatan—tempat harapan warga Moluo dan Leboto ditampung untuk kemudian diperjuangkan demi Gorontalo Utara yang lebih maju dan berpihak pada kebutuhan riil rakyatnya. ###
