Jamuan Kekuasaan dan Ujian Pers: Ketika Gubernur Kalteng Menantang Loyalitas Tanpa Pujian

Jamuan Kekuasaan dan Ujian Pers: Ketika Gubernur Kalteng Menantang Loyalitas Tanpa Pujian (Foto: Istimewa)

Kalteng – Makan malam Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran bersama insan pers di Istana Isen Mulang bukan sekadar agenda silaturahmi. Ia menjadi panggung pesan politik yang jelas: relasi pemerintah dan media tidak boleh dibangun di atas sanjungan, melainkan pada kesetiaan terhadap agenda pembangunan versi penguasa—sebuah pernyataan yang patut dibaca lebih dalam oleh publik.

Di hadapan wartawan, Agustiar secara tegas menolak “kata-kata manis”. Baginya, pujian kerap menyimpan kepentingan. Namun pernyataan ini sekaligus membuka ruang tafsir kritis: kesetiaan seperti apa yang diharapkan kekuasaan dari pers—kesetiaan pada kebenaran publik atau kesetiaan pada stabilitas kekuasaan?

“Saya tidak butuh kata-kata manis. Yang saya butuhkan adalah kesetiaan,” ujar Agustiar, kalimat yang terdengar sederhana, namun sarat makna politis.

Dalam sistem demokrasi, pers justru dituntut untuk tidak setia pada figur atau jabatan, melainkan pada fakta dan kepentingan masyarakat. Karena itu, pernyataan Gubernur ini dapat dibaca sebagai ajakan kemitraan sekaligus ujian: sejauh mana kritik masih diterima ketika ia tidak lagi terasa “manis”.

Agustiar juga mengingatkan agar semua pihak tidak terjebak pada saling menyalahkan. Pesan ini relevan di tengah tantangan ekonomi, kenaikan harga kebutuhan pokok, dan ketidakpastian global. Namun di sisi lain, narasi persatuan sering kali menjadi pedang bermata dua—dapat memperkuat kolaborasi, tetapi juga berpotensi meredam kritik yang sah.

Ia mengibaratkan kondisi pembangunan Kalimantan Tengah dalam fase “kerempeng”, sebuah metafora tentang keterbatasan dan tekanan. Dalam kondisi seperti ini, pers berada di posisi strategis: apakah menjadi penyangga optimisme pemerintah, atau tetap berdiri sebagai pengawas yang mengingatkan ketika arah kebijakan melenceng.

Gubernur turut memaparkan capaian sekitar 10 bulan kepemimpinannya, mulai dari percepatan pembangunan infrastruktur jalan hingga upaya menjaga stabilitas ekonomi daerah. Ia menekankan pentingnya bekerja dengan perhitungan, bukan emosi. Pernyataan ini sekaligus menempatkan pemerintah sebagai aktor rasional di tengah situasi sulit—narasi yang lazim dalam komunikasi politik kekuasaan.

Di akhir sambutan, Agustiar mengapresiasi peran wartawan sebagai mitra strategis demokrasi. Namun relasi kemitraan itu hanya akan sehat jika pers diberi ruang independen, bukan sekadar ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem pendukung kebijakan.

Jamuan malam di Istana Isen Mulang akhirnya menghadirkan satu pertanyaan mendasar: ketika kekuasaan berbicara tentang kesetiaan, apakah yang diminta adalah komitmen bersama membangun daerah, atau kepatuhan narasi demi stabilitas politik?

Jawaban atas pertanyaan itu tidak lahir dari meja makan, melainkan dari bagaimana pemerintah merespons kritik ke depan—dan bagaimana pers menjaga jarak kritisnya tanpa kehilangan keberanian. (Nala)

You cannot copy content of this page

Exit mobile version