Gas LPG 3 kg yang seharusnya menjadi penopang dapur wong cilik kini berubah menjadi barang “elit terselubung.” Sulit dicari, mahal saat didapat. Pertanyaannya sederhana: ke mana sebenarnya alur distribusi gas bersubsidi ini? Jika barangnya ada di pasaran tapi sulit dijangkau rakyat kecil, maka patut diduga ada kebocoran, permainan, atau bahkan pembiaran yang sistematis. Ironisnya, kondisi ini terus berulang tanpa solusi tegas.
Beranjak ke sektor pertanian, nasib petani Tuban tak kalah memprihatinkan. Pupuk bersubsidi yang menjadi nyawa produksi justru menghilang di saat paling krusial: musim tanam. Petani dipaksa berhadapan dengan pilihan yang tidak adil—membeli pupuk non-subsidi dengan harga tinggi atau mempertaruhkan hasil panen. Jika ini terus terjadi, maka jangan heran jika produksi menurun dan harga pangan ikut melonjak. Lalu, siapa yang akan disalahkan?
Belum cukup sampai di situ, pelaku UMKM dan pedagang kecil kini juga tercekik oleh kenaikan harga plastik. Bagi sebagian orang, plastik mungkin dianggap sepele. Tapi bagi pedagang kaki lima, ini adalah bagian penting dari biaya usaha. Ketika harga plastik naik drastis, margin keuntungan yang sudah tipis menjadi semakin tergerus. Ujungnya? Harga naik, pembeli berkurang, usaha terancam tutup.
Tiga masalah ini bukan berdiri sendiri. Ini adalah rangkaian kegagalan dalam memastikan distribusi, pengawasan, dan perlindungan terhadap ekonomi rakyat kecil. Pertanyaannya: di mana peran pemerintah daerah? Apakah hanya akan menunggu laporan, atau berani turun tangan membongkar akar masalah?
Jika ada permainan dalam distribusi LPG, harus diusut. Jika pupuk tidak tepat sasaran, harus ditertibkan. Jika harga bahan penunjang usaha seperti plastik melonjak tanpa kontrol, harus ada intervensi. Diam adalah bentuk lain dari pembiaran.
Masyarakat Tuban tidak butuh klarifikasi normatif atau rapat tanpa hasil. Mereka butuh tindakan. Ketegasan. Keberanian untuk berpihak.
Karena jika kebutuhan dasar saja tak mampu dijamin, maka pertanyaan besar muncul: untuk siapa sebenarnya kebijakan ini dibuat?
