Tuban, 30 November 2025 – Ketika pemerintah desa semakin gencar membangun BUMDes dan Koperasi Merah Putih, banyak yang memuji langkah tersebut sebagai wajah baru kemandirian ekonomi desa. Namun di sisi lain, ada gelombang keresahan yang tak bisa dipungkiri: para pedagang kecil mulai merasa terpojok.
Di tengah gegap gempita pembangunan ekonomi desa, suara rakyat kecil nyaris tenggelam.
Pedagang Kecil: Tulang Punggung Desa yang Mulai Terabaikan
Bertahun-tahun, mereka bertahan hidup dari lapak kecil, warung pinggir jalan, gerobak keliling, hingga kios reot di pasar desa. Ironisnya, kini mereka harus berhadapan dengan lembaga usaha desa yang kuat modal, kuat dukungan, dan kuat jaringan.
Seorang pedagang pernah berkata:
“Kalau semua usaha diambil alih BUMDes, kami ini masih dianggap warga atau cuma penonton di kampung sendiri?”
Pertanyaan yang terdengar sederhana, tapi mencubit hati banyak orang.
BUMDes & Koperasi: Harapan atau Ancaman?
Memang benar, BUMDes dibuat untuk memajukan desa. Tapi ketika unit-unit usaha BUMDes mulai masuk ke sektor yang selama ini digeluti pedagang kecil—dari sembako, parkir, kios pasar, hingga layanan kredit—kekhawatiran itu semakin nyata.
Yang ditakutkan rakyat adalah:
BUMDes menjadi “raksasa ekonomi desa”
Koperasi menjadi “pemain besar baru”
Pedagang kecil kehilangan pelanggan
Keuntungan berputar di lembaga, bukan di masyarakat
Jika tak ada kontrol, BUMDes bisa berubah dari alat pemberdayaan menjadi alat peminggiran.
Transparansi Wajib! Jangan Ada Monopoli Desa
BUMDes dan Koperasi Merah Putih seharusnya membuka ruang untuk pedagang kecil, bukan menutup jalan mereka. Keputusan unit usaha harus melibatkan warga, bukan hanya disusun dalam ruang rapat tertutup.
BUMDes seharusnya:
Melengkapi, bukan menggusur
Mendukung, bukan mengambil alih
Menguatkan pedagang, bukan menyaingi
Sebab yang namanya kemandirian desa bukan hanya soal gedung baru atau laporan pendapatan BUMDes, tetapi tentang bagaimana rakyat kecil tetap bisa hidup layak di tanahnya sendiri.
Solusi Berkeadilan untuk Semua
Pemerintah desa harus tegas menyusun aturan agar:
Pedagang kecil dilindungi dari persaingan tidak sehat
BUMDes hanya masuk ke sektor yang tidak menyentuh nafkah pedagang
Koperasi menjadi wadah kolaborasi, bukan dominasi
Modal mikro dipermudah untuk pedagang
Jika pedagang kecil diberdayakan, ekonomi desa akan tumbuh kuat dari akar. Tetapi jika mereka disingkirkan, desa hanya akan tampak maju di laporan—sementara warganya terseok di belakang.
Desa Maju Harus Bersama Rakyat Kecil
Keberadaan BUMDes dan Koperasi Merah Putih bukanlah masalah. Yang menjadi soal adalah bagaimana kebijakan itu dipraktikkan. Kalau pedagang kecil tidak dilibatkan, tidak dilindungi, dan tidak diberi ruang, maka kita sedang membangun kemajuan semu.
Karena sesungguhnya, ukuran keberhasilan desa bukan pada besar modal BUMDes, tetapi pada seberapa bahagia rakyat kecil menyambung hidup tanpa takut tergusur oleh lembaga yang seharusnya melindungi mereka.
















