Tuban,21 Mei 2026 – Polemik film dokumenter Pesta Babi di Papua ternyata bukan hanya soal sebuah film. Di balik kontroversinya, tersimpan jeritan masyarakat adat yang merasa tanah, hutan, dan ruang hidupnya perlahan hilang atas nama pembangunan dan investasi besar.
Papua hari ini sedang berbicara tentang ketakutan rakyat kecil menghadapi proyek raksasa.
Dan anehnya, suara itu terasa begitu dekat dengan Tuban.
Kabupaten Tuban yang dulu dikenal sebagai daerah pertanian, pesisir, dan kawasan hijau, kini perlahan berubah menjadi kawasan industri besar. Pabrik semen berdiri, tambang batu kapur meluas, proyek kilang minyak terus berkembang, dan kini muncul lagi rencana pembangunan pabrik besar yang disebut-sebut akan menjadi salah satu kawasan industri semen dan energi terbesar di Asia Tenggara.
Pertanyaannya sederhana: apakah rakyat benar-benar siap menerima semua dampaknya?
Di atas kertas, investasi memang selalu terdengar indah. Pemerintah bicara pertumbuhan ekonomi, lapangan pekerjaan, dan kemajuan daerah. Namun di balik baliho pembangunan dan pidato seremonial, ada kekhawatiran besar yang mulai tumbuh di tengah masyarakat.
Pegunungan kapur mulai dikeruk.
Sumber mata air terancam.
Debu beterbangan.
Jalan desa rusak akibat kendaraan proyek.
Dan masyarakat sekitar mulai bertanya-tanya, apakah alam Tuban akan tersisa untuk anak cucu nanti?
Papua memberi gambaran nyata bagaimana pembangunan besar bisa berubah menjadi ancaman bagi masyarakat lokal ketika suara rakyat mulai diabaikan. Tanah adat hilang, hutan dibuka, dan masyarakat perlahan tersingkir dari ruang hidupnya sendiri.
Apakah Tuban akan mengikuti jalan yang sama?
Hari ini mungkin rakyat masih dijanjikan pekerjaan. Namun sejarah di banyak daerah menunjukkan, masyarakat lokal sering kali hanya menjadi penonton ketika industri besar benar-benar beroperasi. Jabatan strategis diisi tenaga luar, keuntungan mengalir ke pemodal, sementara warga sekitar hanya menerima dampak lingkungan dan sisa-sisa pembangunan.
Yang lebih menyedihkan, ketika warga mulai mempertanyakan dampak tambang dan industri, mereka sering dicap anti investasi, anti pembangunan, bahkan dianggap menghambat kemajuan daerah.
Padahal mempertahankan alam bukan tindakan melawan negara.
Menjaga tanah kelahiran adalah hak rakyat.
Tuban bukan sekadar titik proyek di peta investasi nasional.
Tuban adalah rumah bagi petani, nelayan, pesantren, mata air, budaya desa, dan kehidupan masyarakat yang sudah berlangsung jauh sebelum perusahaan-perusahaan besar datang.
Jika pegunungan kapur habis diledakkan, jika sumber air rusak, jika udara semakin tercemar, maka uang investasi sebesar apa pun tidak akan mampu menggantikan kehidupan yang hilang.
Pembangunan seharusnya tidak menjadikan rakyat kecil sebagai korban.
Kemajuan tidak boleh dibangun di atas rusaknya alam dan hilangnya masa depan generasi berikutnya.
Papua hari ini sedang berteriak lewat polemik Pesta Babi.
Dan Tuban harus mulai bertanya kepada dirinya sendiri:
Apakah pembangunan benar-benar untuk rakyat, atau rakyat hanya diminta mengalah demi kepentingan industri raksasa?

















