Agustiar Sabran, yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kalteng, memanfaatkan kesempatan ini untuk menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai persaudaraan di tengah persaingan politik. Dalam sambutannya, Agustiar menekankan bahwa kompetisi politik seharusnya tidak mengorbankan nilai-nilai persaudaraan yang selama ini dijunjung tinggi di Kalteng. Ia mengajak semua pihak untuk terus memelihara falsafah Huma Betang—prinsip kebersamaan dan kerukunan dalam keberagaman.
“Kita harus menjaga falsafah Huma Betang. Kompetisi itu ada tempatnya, tetapi bukan berarti kita harus bermusuhan. Persaingan politik tak boleh memisahkan silaturahmi di antara kita,” ujar Agustiar dengan penuh semangat, mendapatkan sambutan hangat dari peserta acara.
Pernyataan ini direspons positif oleh Willy Midel Yoseph, Ketua Kapakat Senior GMKI Kalimantan Tengah dan salah satu pemateri pada acara tersebut. Meski mereka berasal dari kubu politik yang berbeda, hubungan antara Agustiar dan Willy tetap erat, dengan Agustiar bahkan menyebut Willy sebagai “sahabat dekat”. Keduanya sepakat untuk terus mengedepankan nilai-nilai toleransi dan kebersamaan demi menciptakan Kalimantan Tengah yang lebih harmonis.
“Kita semua bersahabat. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa membedakan antara silaturahmi dan kompetisi politik,” kata Willy, menegaskan pentingnya persaudaraan di tengah keberagaman.
Agustiar juga menggarisbawahi bahwa keberagaman suku dan agama di Kalteng harus senantiasa dihargai dan dipertahankan. Menurutnya, prinsip Huma Betang merupakan pedoman yang harus diterapkan oleh seluruh lapisan masyarakat di Kalteng.
“Keberagaman itu di atas segalanya. Bagi saya, menjaga keberagaman adalah kewajiban yang harus terus kita jalankan,” tegas Agustiar.
Acara ini bukan hanya sebagai ajang silaturahmi bagi para peserta, tetapi juga menjadi simbol bahwa di balik persaingan politik, para pemimpin Kalteng tetap mengutamakan nilai-nilai luhur dan persatuan. Dengan semangat Huma Betang, diharapkan Kalimantan Tengah akan terus menjadi rumah yang harmonis bagi semua golongan, di mana persaingan politik tidak mengganggu kerukunan dan persaudaraan yang telah terjalin lama. (Nala)
