Saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp terkait keluhan warga — mulai dari debu masuk ruang kelas SDN Mondokan, hingga debu yang disebut masuk ke Masjid Nurul Huda Mondokan — Kepala Desa memberikan jawaban singkat.
“Monggo datang ke kantor enggeh,” tulis Kepala Desa saat dimintai tanggapan.
Jawaban tersebut muncul saat awak media menanyakan apakah pihak desa sudah menerima aduan masyarakat dan langkah apa yang telah dilakukan.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, pihak PT pelaksana proyek belum memberikan respons atas pesan konfirmasi yang dikirimkan redaksi.
Paguyuban wali murid SDN Mondokan menyampaikan harapan konkret. Mereka meminta agar pihak proyek tidak hanya membagikan masker dan melakukan penyiraman sesekali, tetapi juga menempatkan petugas kebersihan khusus dari proyek di lingkungan sekolah.
Pasalnya, menurut mereka, jumlah masker yang dibagikan tidak sebanding dengan jumlah siswa, sementara debu terus masuk ke ruang kelas, ruang guru, hingga halaman sekolah.
“Tenaga kebersihan sekolah terbatas. Kalau harus bersih-bersih dulu sebelum pelajaran dimulai, jam belajar bisa terhambat,” ujar salah satu perwakilan paguyuban.
Mereka berharap ada petugas dari proyek yang membantu membersihkan:
Ruang kelas
Ruang guru
Meja dan kursi dari debu
Halaman sekolah
Dengan demikian, proses belajar mengajar tidak terganggu.
Keluhan juga datang dari warga sekitar yang berinisial HRTN. Ia berharap pihak kelurahan lebih aktif menyampaikan aspirasi masyarakat kepada pelaksana proyek.
Menurut warga, debu bahkan sampai masuk ke Masjid Nurul Huda Mondokan, sehingga petugas kebersihan masjid harus bekerja ekstra sebelum pelaksanaan ibadah.
Sementara itu, warung di depan proyek yang dikenal sebagai “Mbah Mi” dikabarkan telah mendapat kunjungan dari pihak kelurahan dan menerima bantuan beras.
Namun warga lain berharap kompensasi tidak diberikan setelah pemberitaan muncul, melainkan dilakukan secara merata sejak awal jika memang terdampak.
“Seharusnya jangan menunggu berita dimuat dulu baru ada perhatian,” ungkap warga.
Proyek Sekolah Rakyat yang ditargetkan menjadi fasilitas pendidikan modern berbasis digital ini diharapkan membawa manfaat jangka panjang. Namun warga menegaskan, proses pembangunannya juga harus memperhatikan dampak lingkungan dan sosial di sekitar lokasi.
