Kepala Desa Sukaraja, Sinarti, yang turun langsung meninjau banjir di area persawahan, mengungkapkan bahwa banjir besar ini mengingatkan pada peristiwa tahun 2005, di mana tanggul penangkis di bibir Sungai Way Pisang jebol hingga memutus akses jalan ke Dusun Rantau Makmur, Desa Sukabakti. Kali ini, banjir kembali memutus tanggul penangkis sepanjang 1,5 meter, menyebabkan air sungai masuk deras ke area persawahan.
“Masyarakat telah berusaha membendung air, namun derasnya arus dari Sungai Way Pisang membuat upaya tersebut sia-sia. Kami hanya bisa pasrah karena tidak mampu melakukan penimbunan,” ujar Sinarti.
Ia juga menambahkan bahwa luas total persawahan di Desa Sukaraja, mulai dari Dusun Sukamaju hingga Muara Badas, mencapai sekitar 500 hektar. Seluruh lahan tersebut kini terendam banjir, bagaikan lautan, padahal sebagian besar petani baru saja selesai memupuk tanaman mereka.
“Jika dalam 3 hingga 4 hari ke depan banjir belum surut, tanaman padi para petani akan mengalami puso atau gagal panen. Ini akan menjadi pukulan berat bagi mereka karena harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menanam ulang,” tambahnya.
Salah satu warga Desa Sukaraja, Santo (32), juga mengalami dampak langsung dari banjir ini. Sawahnya seluas 1 hektar yang baru saja dipupuk kini terendam air. Ia khawatir jika banjir tak segera surut dalam 2 hingga 4 hari ke depan, padinya akan mati dan ia harus menanam ulang.
“Kalau sampai puso, saya benar-benar bingung harus bagaimana. Proses menanam ulang dari awal, mulai dari membuat bibit, membajak, hingga menanam kembali, membutuhkan biaya besar, bisa mencapai Rp3 hingga Rp4 juta. Saat ini, saya tidak lagi memiliki modal untuk itu. Untungnya, sawah ini masih milik orang tua saya,” keluh Santo.
Hal serupa juga dialami oleh Salim, petani lainnya di Sukaraja. Ia menuturkan bahwa tanggul yang jebol sepanjang 1,5 meter membuat air sungai masuk dengan deras ke area persawahan, sehingga sulit untuk dibendung.
“Saya sangat berharap Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan segera membantu kami memperbaiki tanggul penangkis di bibir Sungai Way Pisang. Jika tanggul ini tidak segera diperbaiki, setiap kali sungai meluap, sawah kami akan kembali terendam dan panen kami gagal,” pungkasnya.
Para petani kini berharap ada langkah cepat dari pemerintah daerah untuk menanggulangi dampak banjir, termasuk memperbaiki tanggul yang jebol dan memberikan bantuan bagi mereka yang terdampak agar dapat kembali bertani dan memulihkan ekonomi mereka. (Agusnadi)
