Ketua MADAS (Madura Asli Sedarah) Resmi Adukan Dugaan Korupsi Setoran & Pemotongan Anggaran Polres Tuban ke Polda Jatim

Surabaya, 09 Desember  1995 — Langkah besar dilakukan Ketua Umum MADAS (Madura Asli Sedarah), Bung Taufik, yang hari ini resmi mendatangi Polda Jawa Timur untuk melaporkan dugaan tindak pidana korupsi di tubuh Polres Tuban. Laporan tersebut mencakup dugaan setoran wajib, pemotongan anggaran operasional, hingga penyalahgunaan kekuasaan oleh oknum tertentu.

Aduan diterima oleh petugas pelayanan Polda Jawa Timur dan segera diteruskan ke Ditreskrimsus untuk menjadi atensi khusus.

MADAS (Madura Asli Sedarah) dikenal sebagai organisasi masyarakat yang solid, vokal, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap keadilan sosial. Mayoritas anggotanya berasal dari masyarakat Madura asli yang dikenal berani menyuarakan kebenaran.

“Kami datang sebagai bagian dari MADAS—Madura Asli Sedarah. Kami tidak ingin melihat Polri dirusak oleh oknum. Hari ini laporan resmi sudah kami masukkan,” ujar Bung Taufik di depan kantor Polda Jatim.

Ia menegaskan bahwa MADAS akan terus mengawal kasus ini hingga tuntas, tanpa pandang bulu.

Dalam laporan tersebut, MADAS menyerahkan informasi awal, dokumen pendukung, serta keterangan mengenai adanya tekanan setoran dan pemotongan anggaran operasional.

“Ini dugaan korupsi luar biasa. Kami meminta Kapolda memerintahkan Ditreskrimsus dan Kasubdit Tipikor untuk turun melakukan penyelidikan terbuka,” tegasnya.

Menurut Bung Taufik, praktik tersebut jika dibiarkan akan merusak struktur internal kepolisian dan mencederai kepercayaan publik.

 

Walaupun sedang mengadukan dugaan pelanggaran, Ketua MADAS tetap menyampaikan penghormatan dan apresiasi kepada Kapolda Jatim Irjen Pol Drs. Nanang Avianto, M.Si.

“Kami bangga memiliki Kapolda seperti Irjen Nanang Avianto. Beliau bijaksana, tegas, dan punya komitmen kuat terhadap reformasi Polri,” kata Bung Taufik.

Menurutnya, langkah Kapolda mengganti Kapolres Tuban sebelumnya menjadi bukti bahwa kepemimpinan beliau tidak memberi ruang bagi arogansi dan kekerasan.

Sebelum laporan korupsi masuk, MADAS sudah lebih dahulu mengadvokasi kasus dugaan penganiayaan oleh anggota Unit Jatanras Polres Tuban.

“Kapolres Tuban sudah dicopot dan digantikan oleh PLT Kapolres Kompol Agung Setia Nugroho. Itu bukti keseriusan Kapolda,” ujarnya.

Langkah ini dinilai sebagai sinyal kuat pembenahan internal Polri.

Bung Taufik mengungkapkan beberapa kesaksian internal mengenai adanya sejumlah tekanan kepada anggota:

“Anggota ditekan untuk setor. Anggaran operasional dipotong. Ini bukan hanya pelanggaran etik, tapi dugaan korupsi berat,” katanya.

Ia menyebut tindakan tersebut adalah bentuk arogansi kekuasaan yang harus diakhiri.

Bung Taufik menegaskan, MADAS siap menjadi garda terdepan dalam mengawal proses penyelidikan hingga tuntas.

“Kami mengajak masyarakat ikut memantau. Ini bukan soal personal, tetapi soal masa depan Polri dan pelayanan kepada rakyat,” tandasnya.

Di akhir pernyataannya, Ketua MADAS memberikan harapan besar untuk Kapolda Jawa Timur.

“Kami yakin Irjen Nanang Avianto suatu hari bisa menjadi Kapolri yang hebat, bersih, dan disegani. Beliau adalah teladan dalam reformasi Polri,” tutup Bung Taufik.

You cannot copy content of this page

Exit mobile version