Kenaikan harga ini sontak dikeluhkan warga, terutama kalangan masyarakat kecil yang sangat bergantung pada LPG untuk kebutuhan memasak sehari-hari.
Salah satu warga, sebut saja HR, mengaku kesulitan mendapatkan LPG dengan harga normal. Ia bahkan terpaksa membeli dengan harga tinggi karena kebutuhan yang mendesak.
“Biasanya masih di kisaran Rp20 ribu sampai Rp22 ribu, sekarang sudah Rp30 ribu. Mau tidak mau tetap beli karena kebutuhan dapur,” ujarnya.
Menurut sejumlah warga, selain harga yang mahal, ketersediaan LPG di pangkalan juga sering kosong. Hal ini membuat masyarakat harus mencari ke pengecer dengan harga yang jauh lebih tinggi.
“Di pangkalan sering habis, akhirnya beli di luar, tapi harganya naik jauh,” keluh warga lainnya.
Diduga, lonjakan harga ini dipengaruhi oleh distribusi yang tidak merata serta lemahnya pengawasan di lapangan. Tak sedikit warga yang menduga adanya permainan harga di tingkat pengecer.
Kondisi ini pun memicu keresahan di tengah masyarakat. Warga berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait segera melakukan sidak dan memastikan distribusi LPG subsidi berjalan sesuai aturan.
“Harus ada tindakan tegas, supaya harga kembali normal dan tidak memberatkan rakyat kecil,” tegas warga.
Hingga berita ini diturunkan, pihak terkait belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab kenaikan harga LPG 3 kg di Kabupaten Tuban.
